Kerauhan adalah istilah Bali untuk pengalaman ketika kesadaran, perilaku, atau rasa kendali seseorang berubah, dan dalam tradisi setempat sering dimaknai sebagai “kedatangan” atau kehadiran kekuatan niskala.Kata dasarnya adalah rauh, yang berarti “datang”. Pemaknaannya dapat berkaitan dengan Ida Bhatara/Bhatari, sesuhunan, leluhur, atau entitas lain sesuai kepercayaan masyarakat.
Untuk memahaminya dengan baik, kita perlu memperhatikan makna keagamaannya, pengalaman orang yang mengalaminya, dan kondisi kesehatannya. Pendampingan yang menghormati tradisi dapat berjalan bersama pertolongan medis ketika diperlukan.
1. Apa yang dialami seseorang ketika kerauhan?
Pengalamannya tidak selalu sama. Dalam penelitian kecil Universitas Udayana terhadap lima remaja yang mengalami kerauhan dalam upacara, peserta melaporkan tubuh bergetar, perubahan emosi, ucapan yang terasa keluar spontan, serta perasaan bahwa gerak tubuhnya dikendalikan sesuatu di luar dirinya. Mereka masih dapat mendengar lingkungan dan menyadari sebagian tindakannya. Sesudahnya, ada yang merasa lelah, lega, bingung, malu, atau tenang. Karena sampelnya kecil, pengalaman ini tidak dapat dianggap mewakili semua orang.
Jadi, kerauhan tidak harus berarti pingsan atau hilang ingatan total. Masih mengingat sebagian kejadian juga tidak cukup untuk menuduh seseorang berpura-pura.
Kerauhan dalam ritual tidak otomatis merupakan gangguan jiwa. Pedoman WHO membedakan pengalaman trance yang diterima dalam praktik budaya atau agama dari gangguan yang tidak dikehendaki, berada di luar praktik tersebut, serta menimbulkan penderitaan atau gangguan fungsi yang bermakna. Satu pengalaman singkat saja juga tidak cukup untuk menetapkan diagnosis gangguan trance.
Namun, penerimaan suatu pengalaman sebagai bagian ritual tetap perlu disertai perhatian terhadap keselamatan tubuh orang tersebut.
2. Jenis-jenis kerauhan
A. Menurut pemaknaan dalam tradisi Bali
Tidak ada satu pembagian jenis kerauhan yang baku dan berlaku seragam di seluruh Bali. Dalam Kerauhan dan Ngiring, Komang Indra Wirawan menjelaskan bahwa sebutan masyarakat seperti kerauhan Dewa, Bhuta, dan Gamang terutama mengacu pada entitas yang dipercaya hadir. Penamaan dan penafsirannya dapat berbeda antarkomunitas.
Beberapa pemaknaan yang dijumpai dalam sumber budaya adalah:
| Sebutan atau pemaknaan | Penjelasan dalam kerangka kepercayaan |
|---|---|
| Kerauhan Dewa, Bhatara/Bhatari, atau sesuhunan | Dipahami sebagai kehadiran kekuatan suci melalui seseorang, terutama dalam konteks upacara. Sebagian masyarakat menghubungkannya dengan kehadiran sesuhunan atau pengiring-Nya. |
| Kerauhan yang dikaitkan dengan leluhur | Dipahami sebagai komunikasi atau kehadiran leluhur melalui seorang perantara. Dalam beberapa praktik, peran ini berkaitan dengan jro dasaran atau medium ritual. |
| Kerauhan pepatih atau pengiring | Dalam sebagian penafsiran lokal, orang dianggap menjadi perantara pengiring sesuhunan. Penyebutannya mengikuti tradisi komunitas yang bersangkutan. |
| Kerauhan Bhuta, Gamang, atau makhluk niskala lain | Sebutan yang dipakai sebagian masyarakat untuk pengalaman yang dikaitkan dengan entitas niskala tertentu. Makna dan penanganan tradisionalnya tidak seragam. |
Pembahasan mengenai Dewa/Bhuta/Gamang terdapat dalam buku Wirawan; praktik perantara leluhur dibahas dalam penelitian Udayana; sedangkan penafsiran pepatih muncul dalam kajian teologi Hindu yang diterbitkan melalui STAHN Mpu Kuturan. Ini adalah uraian tentang keyakinan dan pemaknaan budaya, bukan penetapan medis mengenai penyebab suatu kejadian.
Karena itu, saya tidak menyarankan menentukan “siapa yang hadir” hanya dari suara yang berubah, gerakan menari, menangis, mengamuk, atau perilaku menyerupai binatang. Perilaku tersebut perlu dilihat dalam keseluruhan konteksnya.
B. Menurut konteks dan pola kejadiannya
Untuk menentukan pendampingan, pembagian berikut lebih membantu:
1. Kerauhan dalam ritual yang mempunyai tata cara dan pendamping
Contohnya pengalaman trance dalam Tari Sanghyang. Penelitian di jurnal Harmoni menggambarkan persiapan persembahan, nyanyian sakral, musik, penari, dan prosesi yang oleh komunitasnya dimaknai sebagai komunikasi spiritual. Dengan demikian, pengalaman itu berlangsung dalam kerangka sosial dan keagamaan yang dikenal.
2. Kerauhan yang dipersiapkan sebagai bagian dari peran ritual
Sebagian jro dasaran atau perantara ritual mempersiapkan diri dan sarana upacara untuk menjalankan peran yang diterima masyarakat. “Dipersiapkan” di sini tidak berarti bahwa setiap gerakan atau ucapan saat trance pasti dilakukan dengan sengaja. Penelitian Udayana membedakan pengalaman yang dipersiapkan untuk tujuan ritual dari pengalaman yang datang tanpa persiapan.
3. Episode spontan yang tidak dikehendaki
Misalnya, seseorang mengalami perubahan kesadaran saat bekerja atau di rumah, merasa takut, sulit mengendalikan kejadian, dan aktivitasnya terganggu. Keadaan seperti ini perlu dinilai lebih lanjut agar penyebab dan kebutuhan bantuannya jelas.
4. Kejadian bersama atau “kerauhan massal”
Beberapa orang dapat mengalami episode berdekatan. WHO mencatat bahwa trance dapat muncul berkelompok dan mungkin berkaitan dengan sugestibilitas kelompok. Tetapi pola berkelompok saja belum menjelaskan penyebabnya; keadaan lingkungan dan kondisi medis bersama tetap perlu diperiksa.
Keempat pola tersebut dapat saling bertumpang tindih. Seseorang dapat mempunyai pengalaman ritual yang diterima masyarakat, sekaligus mengalami masalah kesehatan pada kesempatan lain.
3. Kenapa seseorang bisa kerauhan?
Belum ada satu penjelasan yang berlaku untuk semua kejadian yang disebut kerauhan. Ada beberapa sudut pandang dan mekanisme yang perlu dibedakan.
A. Penjelasan dalam tradisi: hubungan dengan niskala
Dalam kerangka keyakinan Hindu Bali tertentu, kerauhan dipahami sebagai kehadiran sesuhunan, leluhur, atau kekuatan niskala melalui seseorang. Penafsiran itu berkaitan dengan tempat, rangkaian upacara, peran orang yang bersangkutan, dan tradisi komunitas. Kajian tentang Sanghyang, misalnya, mendokumentasikan bagaimana pelakunya memahami pengalaman tersebut sebagai komunikasi spiritual.
Penjelasan ini mempunyai makna keagamaan bagi yang meyakininya. Pemeriksaan kesehatan menilai hal lain: apa yang terjadi pada kesadaran dan tubuh, apakah ada penyakit, dan pertolongan apa yang diperlukan. Pemeriksaan tersebut tidak dapat menetapkan identitas suatu entitas niskala.
B. Perubahan perhatian dan pengalaman diri
Salah satu penjelasan psikologis adalah perhatian yang menjadi sangat terpusat, sehingga pengalaman terhadap lingkungan, tubuh, dan kendali diri ikut berubah.
Penelitian eksperimen di luar Bali menemukan bahwa kombinasi bunyi drum berulang dan arahan tentang pengalaman yang diharapkan dapat memengaruhi pengalaman subjektif peserta. Temuan ini mendukung kemungkinan peran bunyi, pengarahan perhatian, dan harapan dalam pengalaman trance. Namun, penelitian itu tidak menjelaskan seluruh kerauhan Bali dan tidak berarti bahwa semua pengalaman tersebut dilakukan secara sengaja.
Ada pula penelitian langsung pada ritual di Bali. Studi EEG yang diterbitkan pada 2017 menganalisis 12 peserta, terdiri atas tujuh orang yang mengalami trance dan lima pembanding. Peneliti menemukan perubahan aktivitas listrik otak selama trance. Sampelnya kecil dan pengukuran saat tubuh bergerak mempunyai keterbatasan. Temuan tersebut menunjukkan perubahan fisiologis yang menyertai trance, tetapi tidak menghasilkan tes “kerauhan asli atau palsu”, ataupun membuktikan siapa yang dipercaya hadir.
C. Tekanan psikologis dan disosiasi
Pada sebagian orang, perubahan kesadaran dapat berhubungan dengan disosiasi: keadaan ketika pengalaman diri, lingkungan, ingatan, atau rasa kendali terasa terpisah dari biasanya.
Disosiasi dapat terjadi dalam hubungan dengan tekanan yang berat atau pengalaman traumatis. Gejalanya dapat mencakup perasaan terlepas dari diri sendiri, celah ingatan, atau episode yang menyerupai kejang. Ini merupakan kemungkinan yang perlu dinilai secara individual; kita tidak boleh langsung menganggap semua orang yang kerauhan mempunyai trauma atau gangguan disosiatif.
WHO juga mencatat bahwa tekanan emosi dan konflik interpersonal dapat mencetuskan sebagian episode trance. Penilaian tetap harus mempertimbangkan konteks budaya dan kemungkinan penyebab lain.
D. Kondisi fisik yang tampak menyerupai kerauhan
Sebagian kejadian yang oleh orang sekitar disebut kerauhan mungkin ternyata merupakan masalah kesehatan.
| Kemungkinan | Mengapa perlu dipertimbangkan? |
|---|---|
| Kejang epileptik | Tidak selalu berupa seluruh tubuh menggelepar. Sebagian kejang tampak sebagai tatapan kosong, gerakan kecil berulang, atau perubahan kesadaran. |
| Pingsan | Dapat berkaitan dengan kurang makan/minum, panas, emosi kuat, tekanan darah, atau masalah jantung. |
| Gangguan metabolik atau penyakit akut | Misalnya gula darah sangat rendah, infeksi tertentu, atau keadaan lain yang mengganggu kerja otak. |
| Efek zat atau obat | Paparan atau penggunaan zat tertentu dapat mengubah kesadaran dan perilaku. |
Kemungkinan-kemungkinan tersebut dijelaskan dalam pedoman pertolongan pertama AHA/Palang Merah Amerika serta informasi NHS tentang pingsan. Lokasi kejadian di pura tidak menyingkirkan kemungkinan masalah medis.
E. Pengaruh kelompok dan lingkungan
Jika beberapa orang tiba-tiba pusing, mual, bingung, atau pingsan di tempat yang sama, petugas perlu mempertimbangkan paparan lingkungan. Sebagai contoh, CDC menyebut keracunan karbon monoksida perlu dipikirkan ketika beberapa orang mengalami keluhan serupa, terutama bila ada sumber pembakaran atau genset.
Jadi, sebutan “kerauhan massal” sebaiknya tidak menghentikan pemeriksaan terhadap keadaan udara, panas, paparan asap/gas, dan kondisi orang yang mengalami gejala.
4. Cara mengatasi atau mendampingi orang yang kerauhan
Tujuan pertama adalah menjaga keselamatan, menenangkan keadaan, dan menilai apakah diperlukan bantuan medis. Tidak semua pengalaman ritual perlu dihentikan secara paksa.
A. Bila orang kehilangan kendali atau berisiko cedera
1. Tenangkan lingkungan.
Minta orang sekitar memberi ruang. Pilih satu atau dua pendamping yang tenang dan dikenal orang tersebut. Hindari banyak orang berbicara atau berteriak bersamaan.
2. Jauhkan sumber bahaya.
Amankan benda tajam, keris, api, pecahan kaca, serta akses ke jalan, tangga, atau air. Jika orang bergerak agresif, jaga jarak aman dan minta bantuan petugas terlatih.
3. Dampingi dengan suara tenang.
Panggil namanya dan jelaskan bahwa ada orang yang mendampingi. Tunda pertanyaan panjang atau perdebatan mengenai penyebab kejadian. Pendekatan tenang dan menghormati orang yang membutuhkan pertolongan merupakan bagian dari prinsip pertolongan pertama.
4. Jika jatuh atau kejang, lindungi kepala dan catat waktunya.
Gunakan alas yang lunak. Jangan menahan gerakan tubuh secara paksa. Setelah gerakan kejang berhenti, bila belum sadar penuh tetapi bernapas normal, miringkan tubuh dengan hati-hati. Tetap dampingi sampai pulih atau bantuan datang.
5. Jangan memasukkan apa pun ke mulut.
Jangan memasukkan sendok, jari, kain, atau benda lain. Jangan menuangkan air, tirta, jamu, obat, atau minuman ke mulut selama orang belum sadar penuh dan mampu menelan. Hal itu dapat menyebabkan tersedak.
6. Hindari tindakan yang menyakiti.
Jangan memukul, menampar, mencekik, menindih dada atau leher, membakar, atau memaksa orang menghirup asap. Jangan pula melakukan “uji kekebalan” dengan senjata atau api. Perlakukan tubuhnya sebagai tubuh manusia yang perlu dilindungi.
7. Jaga martabat dan privasinya.
Jangan menjadikannya tontonan atau menyebarkan rekaman tanpa persetujuan. Ketika ia pulih, beri kesempatan beristirahat dan bercerita tanpa dipermalukan.
B. Kapan harus segera meminta bantuan medis?
Hubungi layanan darurat atau cari pertolongan IGD segera jika:
- Ini merupakan kejang pertama kali.
- Kejang berlangsung sekitar lima menit atau lebih.
- Kejang berulang tanpa pulih sadar di antaranya.
- Ada kesulitan bernapas, cedera berat, atau kesadaran tidak pulih.
- Kejang terjadi di air, saat hamil, atau pada penderita diabetes yang kehilangan kesadaran.
Batas lima menit tersebut berkaitan dengan kejang; jangan menunggu lima menit bila pernapasan terganggu.Bila orang tidak responsif dan tidak bernapas normal, minta bantuan darurat dan lakukan resusitasi jantung paru sesuai kemampuan atau panduan operator.
Di Indonesia, 119 merupakan nomor layanan darurat medis. Sampaikan lokasi tepat, kondisi pernapasan, tingkat kesadaran, adanya kejang atau cedera, dan waktu mulai kejadian.
C. Bagaimana dengan penanganan secara agama atau adat?
Bila berlangsung dalam upacara, libatkan pemangku atau sulinggih yang dipercaya dan memahami tradisi pura tersebut. Tata cara antarwilayah memang dapat berbeda, sebagaimana dicatat dalam penelitian Udayana.
Pendampingan yang saya sarankan:
- Beri ruang bagi doa dan pendampingan keagamaan yang dikehendaki orang tersebut atau keluarganya.
- Pastikan semua tindakan tetap menjaga pernapasan dan keselamatan.
- Laksanakan bantuan medis yang diperlukan tanpa menunggu prosesi selesai.
- Bahas tindak lanjut seperti bimbingan rohani atau ritual setelah orang kembali stabil.
- Jangan langsung membebankan kewajiban besar, menetapkan seseorang harus menjadi pemangku, atau menyatakan ia pasti harus ngiring berdasarkan satu kejadian.
Pengalaman kerauhan saja belum memberi dasar yang cukup untuk menetapkan seluruh perjalanan spiritual seseorang. Keputusan mengenai peran keagamaan sebaiknya melibatkan orang tersebut dalam keadaan sadar, keluarga, dan pemuka agama yang dipercaya.
D. Jika berulang, apa yang harus diperiksa?
Buat janji dengan dokter atau puskesmas apabila episode:
- Berulang di luar kegiatan ritual.
- Membuat orang takut, kehilangan waktu, atau sulit bekerja dan belajar.
- Menyebabkan jatuh atau cedera.
- Mempunyai pola yang berubah dari biasanya.
- Disertai keluhan fisik atau psikologis yang menetap.
Dokter dapat memeriksa kemungkinan penyakit lain dan menentukan apakah perlu penilaian saraf atau kesehatan jiwa. Jika ditemukan gangguan disosiatif, konseling atau psikoterapi dapat membantu memahami pencetus dan mengelola gejala. Tidak ada satu obat khusus yang berlaku untuk semua disosiasi; obat dapat digunakan untuk kondisi penyerta sesuai penilaian dokter.
Catatan keluarga sangat berguna: kapan terjadi, kegiatan sebelumnya, lama episode, gerakan yang terlihat, perubahan pernapasan, tingkat kesadaran, serta keadaan setelah pulih. Informasi seperti ini membantu dokter memahami pola kejadian.
5. Apa yang bisa dilakukan keluarga, pengempon pura, atau banjar?
Untuk kegiatan yang melibatkan banyak orang, saya menyarankan kesepakatan pendampingan sederhana:
| Persiapan | Penerapan |
|---|---|
| Pendamping yang jelas | Tentukan siapa yang mendampingi orang, siapa yang menghubungi keluarga, dan siapa yang meminta bantuan medis. |
| Tempat yang aman | Sediakan area tenang dengan ruang yang cukup dan jauh dari api, benda tajam, serta kerumunan. |
| Perhatian pada kebutuhan tubuh | Beri kesempatan istirahat, makan, dan minum sebelum kegiatan; orang yang sedang sakit sebaiknya tidak dipaksa mengikuti aktivitas berat. |
| Batas pertolongan yang disepakati | Semua pendamping memahami bahwa gangguan napas, kejang berkepanjangan, atau cedera memerlukan bantuan segera. |
| Privasi | Utamakan pendampingan dan komunikasi dengan keluarga; hindari menjadikan kejadian sebagai konten. |
| Evaluasi setelah kejadian | Tanyakan pengalaman orang tersebut ketika sudah pulih, lalu tentukan bantuan kesehatan dan keagamaan yang ia butuhkan. |
Bila banyak orang mengalami gejala, sediakan pendampingan di tempat yang lebih tenang sambil meminta penilaian medis dan lingkungan. Dalam investigasi kejadian berkelompok, CDC menekankan bahwa gejala orang yang terdampak perlu dianggap nyata dan ditangani dengan komunikasi yang baik, termasuk ketika faktor psikologis ikut berperan.
Di lingkungan pura atau banjar, pembagian tugas dapat dibuat jelas: pemangku mendampingi aspek ritual, keluarga membantu memberi rasa aman, dan petugas kesehatan menilai kondisi tubuh serta kegawatdaruratan. Dengan begitu, penghormatan terhadap tradisi dan perlindungan terhadap orang yang mengalami kerauhan sama-sama terlaksana.
