Durga Stawa Lengkap

Puja ring Pura Dalem

Berikut adalah Durga Stawa versi Bali yang umum digunakan ketika tangkil atau ngastawa di Pura Dalem. Dalam sejumlah tuntunan kepamangkuan, bagian intinya terdiri atas lima bait, kemudian pada beberapa tradisi ditambahkan mantra penutup. (Academia)

Bait I — Ngastawa Sang Hyang Giri Putri

Om Giri Putri Dewa Dewi
Loka Sraya Maha Dewi
Uma Gangga Saraswati
Gayatri Waisnawi Dewi.

Bait II — Sang Hyang Catur Dewi Mahasakti

Om Catur Diwya Maha Sakti
Catur Asrama Bhatari
Siwa Jagatpati Dewi
Durga Ma Sarira Dewi.

Bait III — Pembebasan dari penderitaan

Om Sarwa Jagat Pranamyanam
Jagat Wighna Wimurcanam
Durga Bhucara Moksanam
Sarwa Duhkha Wimoksanam.

Bait IV — Permohonan amerta dan penyucian

Om Anugraha Amerta Bhumi
Wighna Dosa Winasanam
Sarwa Papa Winasanam
Sarwa Pataka Nasanam.

Bait V — Bhatari sebagai Mahajñana dan Bhuvaneswari

Om Dewa Dewi Maha Jnanam
Sudha Wighna Bhuwaneswari
Sarwa Jagat Pratisthanam
Sarwa Dewa Anugrahakam.

Penutup yang umum digunakan

Om Anugraha Amerta
Sarwa Lara Winasanam
Ya Namah Swaha.

Dalam beberapa tradisi, penutupnya dapat diganti atau dilanjutkan dengan:

Om Durga Dewi Dipataye Namo Namah.

Ada pula yang menggunakan:

Om Catur Dewi Dipataye Namah Swaha.

Penutup tersebut tidak seragam dalam semua desa adat, griya, atau tradisi kepamangkuan. Karena itu, untuk pemakaian ritual resmi, panyineb atau penutup sebaiknya mengikuti dresta pura dan tuntunan guru atau sulinggih setempat.


Versi utuh untuk disalin

Om Giri Putri Dewa Dewi,
Loka Sraya Maha Dewi,
Uma Gangga Saraswati,
Gayatri Waisnawi Dewi.

Om Catur Diwya Maha Sakti,
Catur Asrama Bhatari,
Siwa Jagatpati Dewi,
Durga Ma Sarira Dewi.

Om Sarwa Jagat Pranamyanam,
Jagat Wighna Wimurcanam,
Durga Bhucara Moksanam,
Sarwa Duhkha Wimoksanam.

Om Anugraha Amerta Bhumi,
Wighna Dosa Winasanam,
Sarwa Papa Winasanam,
Sarwa Pataka Nasanam.

Om Dewa Dewi Maha Jnanam,
Sudha Wighna Bhuwaneswari,
Sarwa Jagat Pratisthanam,
Sarwa Dewa Anugrahakam.

Om Anugraha Amerta,
Sarwa Lara Winasanam,
Ya Namah Swaha.


Terjemahan maknawi

Om. Sang Hyang Giri Putri, Sang Mahadewi tempat dunia memperoleh perlindungan. Beliau yang dipuja dalam nama dan kekuatan Dewi Uma, Dewi Gangga, Dewi Saraswati, Dewi Gayatri, dan Dewi Waisnawi.

Om. Sang Mahasakti Ilahi yang memiliki kemahakuasaan beraspek empat; Bhatari yang menaungi seluruh Catur Asrama; Sakti Sang Hyang Siwa Jagatpati, Penguasa alam semesta; Sang Mahadewi yang mengambil perwujudan sebagai Bhatari Durga.

Om. Beliau yang dihormati dan disembah oleh seluruh jagat; yang membebaskan dunia dari segala rintangan; Bhatari Durga yang memberikan pembebasan kepada makhluk-makhluk di bumi dan membebaskan semuanya dari penderitaan.

Om. Anugerahkanlah amerta kepada bumi dan seluruh kehidupan. Lenyapkanlah segala rintangan dan kesalahan. Musnahkanlah segala kekotoran, dosa, serta perbuatan yang membawa penderitaan.

Om. Sang Dewi sebagai Mahajñana, pengetahuan ilahi yang agung; Bhuvaneswari yang menyucikan dan mengatasi segala rintangan; dasar serta penyangga seluruh jagat; sumber anugerah bagi seluruh dewata dan kehidupan.

Om. Anugerahkanlah amerta dan lenyapkanlah segala penyakit, kesedihan, penderitaan, dan kemalangan. Sembah serta persembahan kepada-Mu.

Terjemahan ini bersifat maknawi, bukan terjemahan tata bahasa Sanskerta klasik secara harfiah. Stawa-stawa Bali dihimpun dari banyak naskah dan sebagian menggunakan bentuk Sanskerta yang telah menyatu dengan kebiasaan bahasa Jawa Kuna dan Bali—sering disebut Indonesianized Sanskrit—sehingga beberapa baris memiliki variasi ejaan dan tidak selalu dapat diterjemahkan dengan tata bahasa Sanskerta baku. (Internet Archive)

Arti setiap bait

Bait pertama menempatkan Sang Hyang Giri Putri sebagai Mahadewi atau Mahasakti yang menjadi lokasraya, tempat dunia berlindung. Uma, Gangga, Saraswati, Gayatri, dan Waisnawi bukan harus dipahami sebagai pribadi yang sepenuhnya terpisah, melainkan nama-nama daya ilahi yang berhimpun dalam Sang Mahadewi.

Bait kedua menjelaskan identitas Beliau. Sang Mahadewi adalah Catur Diwya Mahasakti, pelindung Catur Asrama, Sakti Sang Hyang Siwa Jagatpati, dan mengambil wujud sebagai Bhatari Durga.

Bait ketiga memohon pembebasan. Bhatari Durga tidak dipuja untuk mendatangkan penyakit atau penderitaan, melainkan sebagai kekuatan yang membebaskan dunia dari rintangan, penderitaan, dan ketidakseimbangan.

Bait keempat merupakan permohonan penyucian. Amerta melambangkan kehidupan, kesucian, kerahayuan, dan pemulihan. Papa berarti kekotoran atau kesalahan, sedangkan pataka menunjuk pada kesalahan berat yang membawa akibat buruk.

Bait kelima menyebut Sang Dewi sebagai Mahajñana dan Bhuvaneswari: pengetahuan ilahi, penguasa serta penyangga dunia, dan sumber anugerah.


Variasi pelafalan yang dikenal di Bali

Bait kedua sangat sering dilafalkan:

Om Catur Dewi Maha Dewi,
Catur Asrama Betari,
Siwa Jagatpati Dewi,
Durga Masariram Dewi.

Sedangkan dalam beberapa bentuk tertulis ditemukan:

Om Catur Diwya Maha Sakti,
Catur Asrame Bhatari,
Siwa Jagatpati Dewi,
Durga Ma Sarira Dewi.

Keduanya menunjuk kepada pokok pemujaan yang sama. Perbedaan yang umum dijumpai antara lain:

  • Catur Dewi Maha Dewi dan Catur Diwya Maha Sakti;
  • BetariBhatari, atau Bhattari;
  • MasariraMa Sarira, dan Masariram;
  • BucariBhucara, atau Bhu Cara;
  • Wimurcanam dan Wimocanam;
  • AmerthaAmerta, atau Amrta;
  • Nugrahakam dan Anugrahakam.


Posted

in

by