Fenomena Ngaben Membeli Bade di Dagang Bade dan Terpinggirkannya Undagi Bade
Di tengah perubahan pola hidup masyarakat Bali, penyediaan sarana upacara Pitra Yadnya juga mengalami perubahan besar. Keluarga yang dahulu membuat bade, wadah, dan petulangan dengan melibatkan undagi, sangging, tukang, keluarga, serta krama banjar, kini semakin sering memilih memesan sarana pengabenan melalui sentra produksi atau dagang bade.
Pilihan tersebut dapat dipahami. Kematian sering datang tanpa dapat direncanakan, sementara keluarga harus mempersiapkan upacara dalam waktu terbatas. Di sisi lain, banyak anggota keluarga dan krama kini bekerja di sektor jasa, pariwisata, pemerintahan, perdagangan, dan berbagai profesi dengan jadwal yang berbeda-beda. Model pemesanan memberi kepastian harga, waktu penyelesaian, tenaga kerja, pengiriman, dan pemasangan. Penelitian tentang perubahan pelaksanaan ngaben di Bali juga menunjukkan bahwa keterbatasan waktu, tenaga, dan perubahan mata pencaharian menjadi faktor penting munculnya layanan sarana upacara siap pakai. (Garuda)
Namun, persoalannya bukan sekadar apakah bade dibuat secara gotong royong atau dibeli. Persoalan yang lebih mendasar adalah: siapa yang menentukan bentuk, ukuran, struktur, ornamen, fungsi, serta kepatutan bade tersebut?
Apabila keputusan hanya didasarkan pada harga, tampilan, jumlah tumpang, atau foto contoh, sementara Undagi Bade tidak lagi dilibatkan, bade berisiko berubah dari sebuah karya ritual yang mengandung pengetahuan menjadi sekadar barang pesanan.
Catatan Mengenai Istilah “Dagang Bade”
Istilah dagang bade dalam artikel ini digunakan untuk menyebut penyedia, pengusaha, sentra produksi, atau pihak yang menawarkan bade dan perlengkapan pengabenan secara komersial.
Istilah tersebut tidak dimaksudkan untuk merendahkan para perajin maupun pelaku usaha. Tidak sedikit sentra produksi bade yang sebenarnya dipimpin oleh seorang undagi, mempekerjakan sangging yang terampil, dan menghasilkan karya berkualitas. Dalam praktiknya, seorang undagi juga dapat sekaligus menjadi pemilik usaha atau penyedia sarana upacara.
Karena itu, yang perlu dikritisi bukanlah kegiatan berdagangnya, melainkan keadaan ketika fungsi perdagangan mengambil alih seluruh kewenangan pengetahuan, sementara peran undagi hanya dianggap sebagai tukang, pekerja, atau bahkan tidak dilibatkan sama sekali.
Dagang bade memiliki fungsi penting dalam pengadaan bahan, pengelolaan tenaga kerja, produksi, distribusi, pengiriman, dan kepastian biaya. Akan tetapi, fungsi tersebut tidak dengan sendirinya menggantikan tanggung jawab seorang undagi.
Bade Bukan Sekadar Menara untuk Mengusung Jenazah
Dalam pembicaraan sehari-hari, istilah bade, wadah, petulangan, lembu, dan perlengkapan pengabenan lainnya terkadang digunakan secara bercampur. Padahal, masing-masing memiliki fungsi berbeda.
Secara umum, bade atau wadah merupakan bangunan sementara yang digunakan untuk mengusung jenazah menuju setra. Sementara itu, petulangan merupakan sarana tempat jenazah dibakar, yang dapat berbentuk lembu, singa, macan, gajah mina, naga kaang, gedarba, tabla, dan berbagai bentuk lainnya sesuai tradisi yang berlaku. (repo.isi-dps.ac.id)
Bade bukan sekadar rangka bambu yang dihiasi kertas berwarna dan ornamen keemasan. Di dalamnya terdapat persoalan:
- konsep dan fungsi ritual;
- susunan pepalihan;
- proporsi antara bagian bawah, badan, dan puncak;
- bentuk serta jumlah tumpang;
- ukuran dan keseimbangan struktur;
- pemilihan ornamen;
- hubungan antara bentuk dengan tradisi keluarga;
- kondisi jalan menuju setra;
- jumlah orang yang mengusung;
- serta tata cara pengerjaan dan penyuciannya.
Kajian mengenai bade dan petulangan menunjukkan bahwa ukuran, proporsi, anatomi, penempatan ornamen, serta tahapan pengerjaannya tidak hanya ditentukan oleh selera. Pengetahuan tersebut berhubungan dengan pedoman ukuran tradisional, kepustakaan arsitektur Bali, pengalaman praktis, dan kemampuan seorang undagi menerjemahkan konsep menjadi bentuk yang dapat dibangun. (repo.isi-dps.ac.id)
Karena itu, sebuah bade yang tampak megah belum tentu tepat. Sebaliknya, bade yang sederhana tidak berarti kurang utama. Keutamaan yadnya tidak seharusnya hanya dinilai dari tinggi bangunan, banyaknya tumpang, kemilau hiasan, atau besarnya biaya.
Yang terpenting adalah kepatutan bentuk, ketepatan fungsi, kesesuaian dengan tradisi, keamanan konstruksi, serta kesungguhan keluarga dalam melaksanakan yadnya.
Siapa Sebenarnya Undagi Bade?
Undagi Bade bukan hanya orang yang mampu menyusun bambu, membuat rangka, memasang tumpang, atau menghias bade.
Undagi adalah orang yang memiliki pengetahuan untuk mengubah tuntunan, konsep, simbol, ukuran, serta kebutuhan upacara menjadi bentuk arsitektur yang nyata. Dalam proses ritual, undagi bekerja di antara berbagai unsur: keluarga yang mempunyai yadnya, pemimpin upacara, prajuru adat, sangging, tukang, tenaga pengusung, serta kondisi lingkungan tempat prosesi berlangsung.
Penelitian mengenai arsitektur ritual Bali menggambarkan undagi sebagai pemegang pengetahuan yang menerjemahkan prinsip kosmologis ke dalam bentuk yang dapat diukur. Dengan demikian, pekerjaan undagi bukan hanya pekerjaan tangan, melainkan proses mewujudkan pengetahuan melalui konstruksi, ukuran, simbol, dan tata kerja.
Dalam tradisi arsitektur Bali, profesi undagi juga memiliki dimensi etika dan ritual. Naskah tentang Dharma Laksana Undagi memuat pedoman mengenai ukuran, tanggung jawab profesi, mantra, penyucian diri, dan ritual yang mengiringi pekerjaan seorang undagi. Hal ini menunjukkan bahwa undagi secara tradisional tidak dipahami sebagai pekerja teknis semata. (E-Journal Udayana University)
Dalam pembuatan bade, seorang undagi idealnya bertanggung jawab terhadap beberapa hal penting.
Pertama, memahami kebutuhan keluarga dan tradisi yang berlaku. Bentuk bade tidak seharusnya dipilih hanya karena sedang populer atau terlihat lebih megah.
Kedua, menentukan proporsi dan susunan bangunan. Tinggi, lebar, jumlah tumpang, pepalihan, ornamen, dan konstruksi harus menjadi satu kesatuan.
Ketiga, memperhitungkan kondisi nyata. Bade harus melewati jalan, tikungan, kabel, pepohonan, pintu masuk setra, serta menghadapi gerakan para pengusung.
Keempat, mengoordinasikan para tukang dan sangging. Pembuatan bade yang melibatkan banyak orang memerlukan satu arah perencanaan agar bagian konstruksi dan hiasan tidak berjalan sendiri-sendiri.
Kelima, menjaga agar proses pengerjaan tetap mempunyai hubungan dengan tujuan yadnya, bukan hanya mengejar penyelesaian fisik.
Dengan demikian, Undagi Bade adalah perancang, pengarah, penjaga kepatutan, sekaligus penanggung jawab pengetahuan.
Mengapa Masyarakat Lebih Memilih Membeli Bade?
Fenomena membeli bade tidak muncul tanpa sebab. Ada berbagai perubahan sosial yang membuat layanan dagang bade semakin dibutuhkan.
Keterbatasan waktu
Masyarakat tidak lagi mempunyai pola pekerjaan yang seragam. Anggota keluarga dan krama banjar dapat bekerja pada tempat dan waktu yang berbeda-beda. Menyediakan tenaga selama berhari-hari untuk membangun bade menjadi semakin sulit.
Kebutuhan akan kepastian
Melalui sistem pemesanan, keluarga dapat mengetahui biaya, waktu pengerjaan, kelengkapan yang diperoleh, jadwal pengiriman, serta kebutuhan tenaga. Dalam situasi berduka, kepastian seperti ini sangat membantu.
Berkurangnya tenaga terampil di lingkungan sendiri
Tidak semua desa atau banjar masih mempunyai undagi, sangging, dan tukang bade yang aktif. Kalaupun ada, regenerasinya sering tidak berjalan dengan baik.
Munculnya sistem paket
Bade dan perlengkapan pengabenan dapat ditawarkan dalam bentuk unit atau paket. Keluarga tinggal memilih jenis, kelengkapan, ukuran, serta kemampuan biaya. Penelitian mengenai komodifikasi arsitektur bade mencatat adanya proses pemesanan, produksi, distribusi, standarisasi bentuk, serta penetapan harga dalam layanan komersial. (Garuda)
Keinginan memperoleh hasil yang cepat dan terlihat megah
Dalam budaya visual, masyarakat mudah membandingkan karya melalui foto dan video. Ukuran, tumpang, warna, serta kemegahan kemudian dapat menjadi ukuran keberhasilan yang paling mudah dilihat, meskipun belum tentu menggambarkan ketepatan filosofis maupun kesesuaian dengan tradisi keluarga.
Semua alasan tersebut masuk akal. Karena itu, keluarga yang membeli bade tidak patut langsung dianggap meninggalkan tradisi. Layanan komersial dapat membantu masyarakat melaksanakan yadnya secara lebih efisien. Komodifikasi juga dapat menciptakan pekerjaan, meningkatkan keterampilan perajin, dan mendorong inovasi teknik produksi. (Garuda)
Akan tetapi, kemudahan tersebut harus disertai kewaspadaan agar efisiensi tidak menghilangkan pengetahuan yang menjadi dasar pembuatannya.
Ketika Harga dan Penampilan Menggantikan Pengetahuan
Masalah mulai muncul ketika pembicaraan mengenai bade hanya berpusat pada pertanyaan:
“Berapa harganya?”
“Berapa tumpang?”
“Bisa dibuat lebih tinggi?”
“Bisa sama seperti bade yang ada di foto ini?”
“Berapa hari selesai?”
Pertanyaan tersebut memang penting, tetapi belum cukup.
Seharusnya ada pertanyaan yang lebih mendasar:
“Siapa undagi yang bertanggung jawab?”
“Apa dasar pemilihan bentuk ini?”
“Apakah sesuai dengan tradisi keluarga dan desa adat?”
“Bagaimana proporsinya ditentukan?”
“Siapa yang memeriksa konstruksinya?”
“Bagaimana bade ini akan melewati jalan menuju setra?”
“Apakah ada generasi muda yang dilibatkan untuk belajar?”
Apabila pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak pernah diajukan, kewenangan untuk menentukan bade perlahan berpindah dari pemegang pengetahuan kepada mekanisme pasar.
Bade kemudian dinilai seperti barang dekorasi: dipilih berdasarkan model, ukuran, harga, dan tampilan. Undagi tidak lagi ditempatkan sebagai orang yang menentukan konsep, melainkan sekadar orang yang diminta menyelesaikan pesanan.
Dampak Mengesampingkan Undagi Bade
1. Bade menjadi produk yang seragam
Setiap desa, wilayah, dan tradisi keluarga dapat memiliki kebiasaan bentuk, proporsi, tata ornamen, serta tata cara yang berbeda. Ketika produksi diarahkan pada efisiensi, bentuk tertentu cenderung dibuat berulang-ulang agar mudah diproduksi dan dijual.
Standarisasi memang dapat menekan biaya dan mempercepat pengerjaan, tetapi berisiko menghilangkan kekhasan lokal. Bade dari satu wilayah perlahan dapat terlihat sama dengan bade dari wilayah lain, walaupun latar tradisinya berbeda.
2. Ornamen kehilangan hubungan dengan makna
Ornamen pada bade bukan sekadar pengisi bidang kosong. Bentuk, susunan, arah, ukuran, dan penempatannya merupakan bagian dari bahasa arsitektur.
Ketika ornamen hanya dipilih karena indah atau sedang populer, simbol dapat terlepas dari konteksnya. Bade masih terlihat “Bali”, tetapi tidak lagi jelas pengetahuan apa yang mendasari susunan tersebut.
3. Proses ritual berisiko dipersingkat
Bade yang diproduksi secara komersial tidak otomatis kehilangan kesakralannya. Namun, tekanan waktu dan efisiensi dapat mendorong pengurangan tahapan tertentu apabila tidak ada undagi atau pihak yang bertanggung jawab mengawasinya.
Kajian tentang komodifikasi bade mencatat bahwa penyederhanaan, standarisasi, perubahan material, dan pengurangan beberapa tahapan kerja dapat menjadi bagian dari proses produksi yang mengejar efektivitas dan efisiensi. (Garuda)
4. Pengetahuan tidak diwariskan
Pengetahuan undagi sebagian besar tidak cukup dipelajari dari buku atau gambar. Pengetahuan itu hidup melalui proses melihat, membantu, mengukur, memotong, menyusun, memperbaiki kesalahan, mendengarkan penjelasan, serta ikut ngayah.
Ketika keluarga hanya menerima bade yang sudah selesai, generasi muda hanya melihat hasil akhirnya. Mereka tidak mengetahui mengapa ukurannya demikian, mengapa ornamen tertentu ditempatkan pada bagian tertentu, atau bagaimana keputusan konstruksi dibuat.
Kajian terbaru mengenai arsitektur ritual Bali menyebut pengetahuan undagi sebagai pengetahuan teknis-ritual yang diwariskan melalui praktik. Pengetahuan ini rentan terkikis ketika jumlah undagi menurun dan pengerjaan sepenuhnya diserahkan kepada layanan komersial tanpa proses pembelajaran antargenerasi.
5. Tanggung jawab menjadi tidak jelas
Apabila terjadi ketidaksesuaian bentuk, masalah konstruksi, atau perbedaan pandangan mengenai kepatutan bade, siapa yang bertanggung jawab?
Dagang dapat menyatakan bahwa barang dibuat sesuai pesanan. Tukang dapat mengatakan bahwa ia hanya mengikuti gambar. Keluarga merasa telah menyerahkan seluruh pekerjaan kepada penyedia.
Tanpa Undagi Bade yang secara jelas menjadi penanggung jawab, keputusan penting dapat dibuat oleh banyak orang, tetapi tidak ada satu pun yang benar-benar memegang tanggung jawab pengetahuan.
6. Yadnya dapat bergeser menjadi pertunjukan status
Kemegahan memang merupakan bagian yang dapat hadir dalam estetika upacara Bali. Namun, ketika ukuran dan hiasan dijadikan alat utama untuk menunjukkan kemampuan ekonomi, perhatian dapat bergeser dari kepatutan menuju persaingan penampilan.
Kajian mengenai arsitektur pengabenan menunjukkan bahwa ukuran, kerumitan ornamen, dan kemegahan dapat berfungsi sebagai penanda prestise sosial. Karena itu, keputusan membuat bade lebih tinggi atau lebih mewah perlu selalu dikembalikan kepada tujuan yadnya, bukan hanya kepada keinginan untuk terlihat lebih besar daripada yang lain.
Membeli Bade Tidak Berarti Menolak Tradisi
Tradisi Bali tidak pernah benar-benar diam. Bahan, alat, teknik penyambungan, kendaraan pengangkut, sistem produksi, dan cara masyarakat mengatur tenaga terus mengalami perubahan.
Munculnya bade beroda, misalnya, merupakan bentuk penyesuaian terhadap keterbatasan tenaga, perubahan pekerjaan, kondisi jalan, dan kebutuhan masyarakat modern. Penelitian mengenai bade beroda menyimpulkan bahwa masyarakat Bali mempunyai kelenturan sosial dan budaya untuk melakukan perubahan tanpa harus menghilangkan inti makna upacara. (Jurnal Institut Seni Indonesia Denpasar)
Dengan demikian, membeli bade bukanlah kesalahan dengan sendirinya. Menggunakan bahan modern juga tidak otomatis berarti menghilangkan kesakralan. Memesan dari sentra produksi bahkan dapat menjadi pilihan yang paling realistis bagi sebagian keluarga.
Yang harus dijaga adalah struktur kewenangannya.
Dagang bade dapat menyediakan bahan, tenaga, tempat produksi, administrasi, pengiriman, dan pemasangan. Sangging dapat mengerjakan tatahan serta ornamen. Tukang dapat mengerjakan konstruksi. Namun, konsep dan tanggung jawab keseluruhan tetap sepatutnya berada di bawah arahan Undagi Bade yang benar-benar memahami pekerjaannya.
Bukan soal membeli atau tidak membeli.
Bukan pula soal dibuat di rumah duka atau di bengkel produksi.
Persoalannya adalah apakah bade tersebut tetap dirancang dan dipertanggungjawabkan sebagai karya ritual, atau hanya diproduksi sebagai barang dagangan.
Membangun Kemitraan antara Undagi dan Dagang Bade
Jalan keluarnya bukan dengan menolak seluruh dagang bade. Pelaku usaha justru dapat menjadi bagian penting dari pelestarian apabila menempatkan undagi secara terhormat dan terbuka.
1. Konsultasi dilakukan sebelum menentukan harga
Sebelum keluarga memilih model, perlu dilakukan pembicaraan dengan Undagi Bade, keluarga, prajuru adat, dan pemimpin upacara sesuai tradisi setempat.
Dalam tahap ini ditentukan kebutuhan sebenarnya, bukan sekadar keinginan visual.
2. Nama undagi penanggung jawab harus jelas
Setiap penawaran bade sebaiknya mencantumkan siapa undagi yang merancang dan bertanggung jawab.
Jangan hanya mencantumkan nama usaha, ukuran, harga, dan tanggal pengiriman. Nama undagi penting agar masyarakat mengetahui bahwa di balik produk tersebut terdapat orang yang memegang tanggung jawab pengetahuan.
3. Fungsi undagi, sangging, tukang, dan penyedia dibedakan
Keempat fungsi tersebut dapat berada dalam satu usaha, tetapi tanggung jawabnya tetap perlu dibedakan:
- undagi menentukan konsep, ukuran, struktur, dan kepatutan;
- sangging mengolah bentuk serta ornamen;
- tukang melaksanakan konstruksi;
- penyedia mengelola bahan, tenaga, biaya, pengiriman, dan pelayanan.
Dengan pembagian tersebut, urusan bisnis tidak menutupi tanggung jawab budaya.
4. Dibuat lembar ketetapan atau spesifikasi bade
Dokumen sederhana dapat memuat:
- jenis dan fungsi sarana;
- ukuran serta proporsi;
- bentuk dan jumlah tumpang;
- susunan pepalihan;
- jenis ornamen;
- bahan utama;
- nama Undagi Bade;
- penanggung jawab produksi;
- rencana pemasangan dan perjalanan menuju setra;
- serta tahapan yang perlu disiapkan sebelum digunakan.
Dokumen tersebut bukan untuk menyeragamkan seluruh Bali, melainkan untuk memastikan bahwa keputusan tidak hanya disampaikan secara lisan dan kemudian dilupakan.
5. Honorarium undagi dipisahkan dari harga barang
Pengetahuan undagi sering tidak terlihat karena biaya hanya dihitung berdasarkan bahan dan jumlah pekerja. Padahal, proses mengukur, merancang, menentukan bentuk, mengawasi, dan mengambil tanggung jawab merupakan pekerjaan tersendiri.
Memberikan honorarium yang layak berarti mengakui bahwa yang dibayar bukan hanya tenaga, tetapi juga pengetahuan.
6. Generasi muda dilibatkan
Setiap pembuatan bade dapat menjadi ruang belajar. Dagang bade atau bengkel produksi dapat menerima anak-anak muda untuk ikut mengukur, membuat rangka, menatah, memasang ornamen, mendokumentasikan istilah, dan mendengarkan penjelasan undagi.
Pelestarian tidak cukup dengan memotret bade yang sudah selesai. Pelestarian harus memastikan ada orang yang mampu membuat, memahami, dan mempertanggungjawabkannya pada masa depan.
7. Desa adat mendata undagi dan pengetahuan lokal
Desa adat dapat menginventarisasi Undagi Bade, sangging, tukang, istilah pepalihan, bentuk lokal, serta pengalaman pembuatan bade yang pernah dilakukan.
Pendataan tersebut tidak harus menjadi aturan kaku yang diberlakukan sama di seluruh Bali. Tujuannya adalah menjaga agar pengetahuan lokal tidak hilang ketika seorang undagi sepuh meninggal tanpa sempat mewariskan ilmunya.
Mengembalikan Ukuran Keutamaan
Masyarakat perlu mengubah kembali cara memandang bade.
Bade yang utama bukan selalu yang paling tinggi.
Bade yang patut bukan selalu yang paling mahal.
Bade yang indah bukan selalu yang paling ramai hiasannya.
Bade yang benar adalah bade yang sesuai dengan fungsi, tradisi, kemampuan keluarga, tuntunan upacara, keadaan lingkungan, serta dikerjakan dengan tanggung jawab.
Dagang bade boleh berkembang. Sentra produksi boleh menggunakan alat modern. Sistem paket boleh ditawarkan untuk membantu keluarga. Inovasi bahan dan konstruksi juga dapat dilakukan.
Namun, semua itu seharusnya memperkuat, bukan menghilangkan, kedudukan Undagi Bade.
Dagang bade menyediakan layanan.
Sangging dan tukang mewujudkan karya.
Undagi Bade menjaga pengetahuan, kepatutan, dan arah keseluruhan proses.
Apabila Undagi Bade terus dikesampingkan, yang hilang kelak bukan hanya sebuah profesi. Yang hilang adalah rangkaian pengetahuan mengenai ukuran, bentuk, simbol, konstruksi, ritual, etika, dan cara masyarakat Bali menghubungkan dunia sekala dengan niskala melalui sebuah karya.
Tradisi tidak akan selamat hanya karena bentuk badenya masih terlihat.
Tradisi baru benar-benar hidup apabila pengetahuan di balik bentuk tersebut masih dipahami, dijalankan, dihormati, dan diwariskan.
Rujukan Utama
- Kajian mengenai komodifikasi arsitektur bade dan perubahan bade menjadi komoditas yang diproduksi, ditawarkan, serta didistribusikan melalui sentra produksi. (Garuda)
- Kajian mengenai bade beroda sebagai bentuk transformasi budaya dalam menghadapi perubahan pekerjaan, waktu, tenaga, dan kehidupan masyarakat Bali. (Jurnal Institut Seni Indonesia Denpasar)
- Kajian mengenai bentuk, proporsi, ornamen, teknik, dan fungsi bade serta petulangan dalam upacara ngaben. (repo.isi-dps.ac.id)
- Kajian mengenai kode etik, ukuran, tanggung jawab, dan dimensi ritual dalam profesi undagi tradisional Bali. (E-Journal Udayana University)
- Kajian mengenai arsitektur pengabenan sebagai tempat bertemunya pengetahuan undagi, estetika, kosmologi, identitas, dan perubahan ekonomi kontemporer.
