Sejarah dan Silsilah Pasek Tohjiwa

Pasek Tohjiwa adalah salah satu kelompok keturunan atau soroh Pasek di Bali. Dalam tradisi silsilah Pasek Sanak Sapta Rsi, asal-usulnya dihubungkan dengan Mpu Ketek, salah seorang putra Mpu Gnijaya. Tokoh yang menjadi pusat penamaan garis ini adalah Ki Pasek Tohjiwa, yang juga disebut I Gusti Pangeran Pasek Tohjiwa atau Kyayi I Gusti Pangeran Pasek Tohjiwa. Hubungan tersebut disebut dalam tulisan keluarga Tangguntiti–Jakatebel yang merujuk babad dan prasasti keluarga. 

Namun, silsilah Pasek Tohjiwa memiliki beberapa versi, terutama mengenai urutan leluhur sebelum Pangeran Tohjiwa dan hubungannya dengan Ki Pasek Badak. Karena itu, bagan di bawah saya beri keterangan sumbernya. Babad, prasasti keluarga, dan pitutur pengelingsir merupakan sumber penting untuk memahami identitas keluarga, tetapi setiap urutan nama dan tahun tetap perlu diperiksa menurut naskah yang digunakan.

1. Kedudukan Pasek Tohjiwa dalam keluarga besar Pasek

Dalam ringkasan Babad Usana Bali, Mpu Gnijaya diceritakan mempunyai tujuh putra yang dikenal sebagai Sanak Pitu atau kelompok tujuh resi. Mpu Ketek termasuk di dalamnya. Dari jalur Mpu Ketek inilah salah satu tradisi menelusuri leluhur Pasek Tohjiwa. 

Riwayat Pasek Tohjiwa juga memuat tugas dalam kehidupan kerajaan. Ringkasan Bancangah Pasek Gelgelmenggambarkan I Gusti Pasek Tohjiwa sebagai tokoh pemberani yang diberi tanggung jawab sebagai panglima, menghadapi musuh Dalem, dan membantu ketika terjadi kebakaran. Sementara itu, Babad Usana Bali menyebut perannya dalam bidang ketentaraan. Dengan demikian, gambaran yang muncul dalam kedua babad tersebut adalah pemimpin yang mempunyai tanggung jawab menjaga keselamatan kerajaan dan masyarakat. 

Dalam membaca sumber-sumber ini, beberapa istilah perlu dibedakan:

IstilahCara memahaminya dalam penelusuran silsilah
LeluhurTokoh asal yang dihormati suatu garis keluarga; belum tentu ayah langsung.
Putra atau anakPernyataan hubungan satu generasi dalam sumber yang bersangkutan.
Keturunan, sentana, atau pratisentanaDapat mencakup beberapa generasi yang tidak semuanya disebutkan.
DadiaKelompok keluarga yang menjadi titik penting untuk menelusuri hubungan antargenerasi.
KawitanBerkaitan dengan asal-usul leluhur dan tempat pemujaannya; perlu dipahami menurut tradisi keluarga masing-masing.

Pembedaan antara “putra” dan “keturunan” sangat menentukan. Sebuah tulisan yang menyebut seseorang sebagai keturunan Pangeran Tohjiwa belum cukup untuk menempatkannya tepat satu generasi di bawah Pangeran Tohjiwa.

2. Bagan silsilah menurut jalur Mpu Ketek

Salah satu uraian yang cukup terperinci terdapat dalam sinopsis daring Babad Pasek Jilid II karya Jro Mangku Gde Ktut Soebandi. Jalur yang sama juga disajikan dalam tulisan mengenai keturunan Dukuh Suladri yang menyatakan merujuk buku Soebandi. Yang dapat saya periksa di sini adalah sinopsis dan penyajian ulangnya, sehingga bagan ini perlu dibaca sebagai silsilah menurut versi tersebut.

Bagan leluhur dan percabangan utama

Bagian Mpu Gnijaya–Mpu Ketek mengikuti tradisi Sanak Pitu dalam Babad Usana Bali. Jalur setelah Mpu Ketek mengikuti uraian sinopsis Babad Pasek tersebut. Ibu Ki Pasek Tohjiwa dan Ki Pasek Padang Subadra dalam versi ini adalah Ni Luh Pasek, istri Kyayi Gusti Agung Subadra. Bagan hanya memperlihatkan jalur yang sedang dibahas; anak dan cabang lainnya tidak seluruhnya ditampilkan. 

Ada tiga hal yang perlu diperhatikan:

  • Arya Pamacekan dan Mpu Jiwanatha disebut sebagai orang yang sama dalam versi ini; Mpu Jiwanatha merupakan nama setelah menjalani diksa.
  • Ki Pasek Tohjiwa dan Ki Pasek Padang Subadra merupakan dua putra dari satu pasangan. Karena itu, kedua kelompok mempunyai hubungan sebagai cabang saudara dalam versi tersebut.
  • Nama Pamacekan/Pemacekan, Kapasekan/Kepasekan, dan Subadra muncul pada lebih dari satu bagian silsilah. Kesamaan nama perlu diperiksa bersama nama pasangan, orang tua, tempat, dan kedudukannya.

Hubungan dengan Pasek Padang Subadra ini cukup penting: jika sebuah keluarga menelusuri kawitannya melalui Padang Subadra, hubungan dengan Tohjiwa dapat berada pada leluhur bersama, sementara jalur dadia setelah percabangan itu berkembang sendiri.

3. Riwayat Pangeran Pasek Tohjiwa dalam babad

A. Berkedudukan sebagai amancabhumi di Kejiwa

Menurut sinopsis Babad Pasek Jilid II, Ki Pasek Tohjiwa diangkat menjadi amancabhumi, yakni pemegang kewenangan atas suatu wilayah, dan berkedudukan di Kejiwa. Beliau memakai gelar I Gusti Pangeran Pasek Tohjiwa.

Sinopsis tersebut menempatkan pengangkatan itu pada 1257 Śaka atau 1335 Masehi, serta menggambarkan wilayahnya berada di sebelah barat Bukit Penyu dan sebelah timur Desa Bajing. Angka tahun dan batas wilayah ini merupakan keterangan dalam tradisi babad yang diringkas oleh sumber tersebut. Saya belum menemukan prasasti kerajaan sezaman yang dapat digunakan untuk mengesahkan rincian pengangkatannya. 

B. Perutusan ke kawasan Batur

Sumber yang sama mengisahkan Pangeran Pasek Tohjiwa ikut dalam perutusan Samplangan ke Tampurhyang atau Tapurhyang Batur pada 1274 Śaka atau 1352 Masehi, untuk menyelesaikan pertentangan dengan masyarakat Bali Aga.

Dalam rangkaian cerita tersebut, beliau menikah dengan Luh Sadri, putri Ki Kayu Putih, dan mempunyai dua anak:

  1. Luh Taru.
  2. Made Jaya.

Keterangan ini merupakan satu bagian riwayat perkawinan dalam sinopsis itu; sumber tersebut tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa keduanya adalah seluruh keturunan Pangeran Tohjiwa dalam semua versi babad.

C. Peran pada lingkungan kerajaan Gelgel

Dalam tradisi Bancangah Pasek Gelgel, Tohjiwa tampil bersama kelompok Pasek lainnya dalam pembagian tugas kerajaan. Peran militernya cukup menonjol. Ringkasan tersebut juga menyebut keturunan dengan nama Pasek Dawuh Alang, Pasek Bebetin, dan Pasek Gobleg, serta penggunaan gelar Ngukuhin bagi putra yang berada di pegunungan. 

Bagian ini menunjukkan bahwa sebuah babad dapat menyusun silsilah sekaligus menjelaskan asal kewenangan, pembagian tugas, dan hubungan suatu keluarga dengan wilayahnya. Karena itu, nama dalam babad perlu dibaca dalam konteks cerita keseluruhan.

4. Cabang keturunan yang disebut dalam salah satu alih aksara Babad Pasek

Sebuah salinan daring Babad Pasek mencantumkan rujukan Gedong Kirtya, nomor Va.963/6, alih aksara oleh I Ketut Windia, pemeriksaan oleh I Ketut Suwidja, serta pengetikan ulang bertanggal 4 Juli 1988. Pada bagian sekitar 68b–69a, salinan itu menyebut keturunan De Pasek Tohjiwa sebagai berikut. Saya mempertahankan ejaan nama dalam salinan tersebut.

No.Nama cabang atau sebutan keturunan
1Tohjiwa
2Tangguntiti
3Penatahan
4Antosari
5Gali Ukir
6Alang Linggah
7Ring Basang
8Boda
9Wanagiri
10Pejahan
11Bantiran
12Pupuan
13Sanda

Dalam bagian tersebut, anak yang tertua dikatakan memakai nama Tohjiwa, sama dengan nama ayahnya. Hal ini menjadi contoh langsung bahwa nama Tohjiwa dapat dipakai pada lebih dari satu generasi. 

Daftar 13 nama ini adalah daftar dalam satu salinan, bukan jumlah pasti seluruh cabang Pasek Tohjiwa sekarang. Ringkasan Babad Usana Bali memuat daftar yang berbeda, antara lain dengan bentuk nama Galahukir, Bleda, Swanagari, serta penyebutan Kederan dan Marga. Hubungan antara nama-nama yang mirip tersebut perlu diperiksa melalui naskah dan tradisi dadia, sebelum dianggap sebagai cabang yang sama. 

5. Hubungan Pasek Tohjiwa dengan Ki Pasek Badak dan Tangguntiti

Ini merupakan salah satu bagian penting dalam riwayat Pasek Tohjiwa di wilayah Buduk dan Tangguntiti.

A. Versi keluarga Tangguntiti–Jakatebel

Tulisan keluarga berjudul Keturunan Ki Pasek Badak di Br. Gunung Buduk menghubungkan Ki Pasek Badak, yang juga disebut Ki Pasek Wanda, dengan garis I Gusti Pasek Tohjiwa Dimadya, kemudian dengan Kyayi I Gusti Pangeran Pasek Tohjiwa. Untuk dua hubungan awal itu, tulisan memakai pengertian keturunan, sehingga jumlah generasi di antaranya tidak dapat dipastikan hanya dari ringkasan tersebut. 

Bagannya dapat ditampilkan sebagai berikut:

Garis putus-putus menunjukkan hubungan keturunan yang generasi antaranya belum dirinci. Dua cabang jeroan pada bagian bawah mengikuti penjelasan keluarga Tangguntiti: putra yang lebih tua menempati Jeroan Gede Jakatebel, sedangkan putra yang lebih muda menempati Jeroan Gede Tangguntiti.

Menurut Ringkasan Sejarah Pasek Tohjiwa Tangguntiti, salah seorang putra Ki Pasek Badak meninggalkan Buduk karena tidak bersedia tunduk kepada penguasa Mengwi. Ia kemudian menuju Tangguntiti dan dikisahkan memperoleh kewenangan dari Raja Tabanan untuk mengatur masyarakat serta wilayah tersebut. Tulisan itu juga menjelaskan hubungan kedua jeroan dengan lingkungan Puri Tabanan dan Kerambitan. 

Cerita perpindahan dari Buduk ke kawasan Tangguntiti juga hadir dalam sejarah Desa Tegalmengkeb. Situs desa tersebut secara terbuka menyebut bahwa uraiannya berasal dari cerita yang diwariskan, karena sumber sejarah tertulis belum ditemukan oleh penyusunnya. Ini menunjukkan adanya ingatan lokal mengenai perpindahan masyarakat akibat pertentangan dengan Mengwi. 

B. Tradisi di Kekeran

Situs resmi Desa Kekeran memuat penjelasan tokoh masyarakat mengenai hubungan Pura Pasek Tohjiwa di Banjar Delod Yeh dengan Ki Pasek Badak.

Menurut cerita babad yang disampaikan narasumber tersebut, setelah konflik dengan Mengwi dan gugurnya Ki Pasek Badak, sebagian pengikutnya berpindah ke Delod Yeh. Kelompok itulah yang dikaitkan dengan terbentuknya pasemetonan dan pura setempat. Sumber ini berguna untuk memahami tradisi asal-usul pengempon di Kekeran. 

C. Ada versi asal-usul Pasek Badak yang berbeda

Sejarah Desa Buduk memuat versi lain. Dengan merujuk Babad Sira Pangeran Pasek Badak dan Kidung Yuda Manguwi, situs desa itu menyebut Pangeran Pasek Badak sebagai putra Ki Bondan Pangasih.

Dengan demikian, dua keterangan berikut harus tetap dibedakan:

Sumber tradisiHubungan leluhur yang disampaikan
Keluarga Tangguntiti–JakatebelKi Pasek Badak/Wanda dihubungkan dengan garis Tohjiwa Dimadya dan Pangeran Pasek Tohjiwa.
Sejarah Desa Buduk yang merujuk babad dan kidungPangeran Pasek Badak disebut sebagai putra Ki Bondan Pangasih.

Belum cukup bukti untuk menyatakan bahwa perbedaan ini hanya persoalan pergantian nama, atau bahwa kedua versi dapat langsung digabungkan. Penentuannya memerlukan pembandingan naskah yang digunakan oleh masing-masing keluarga.

6. Mengapa ada silsilah Pasek Tohjiwa yang berbeda?

Perbedaannya sudah terlihat pada ringkasan beberapa naskah. Berikut contoh jalur yang disebutkan:

SumberJalur menuju tokoh Tohjiwa dalam sumber tersebut
Sinopsis Babad Pasek Jilid IIMelalui Sanghyang Pamacekan, Mpu Pamacekan, Arya Pamacekan/Mpu Jiwanatha, dan Kyayi Gusti Agung Subadra.
Bancangah Pasek GelgelMelalui Mpu Ketek, Arya Tatar, Ki Patih Ulung, Ki Semar, dan I Gusti Longan.
Kandan Ing Pasek GelgelPada salah satu bagian menyebut Ki Patih Gulung, Ki Semar, dan Ki Langgon sebagai rangkaian menuju kelompok Pasek yang mencakup Tohjiwa.

Perbandingan ini berasal dari isi ringkasan masing-masing sumber; ketiganya tidak memberikan susunan yang sepenuhnya sama. 

Keberadaan tradisi naskah lain juga tercatat dalam Ceraken Kebudayaan Bali milik Pemerintah Provinsi Bali. Katalog Babad Pasek Dukuh Sebun, nomor B/I/5/Disbud, memuat rangkaian leluhur melalui Mpu Witadharma, Mpu Wiradharma, Mpu Ajnyana, dan Mpu Pananda, kemudian menyebut kelompok Pasek termasuk Tohjiwa. Katalog itu mencatat naskah lontar yang disalin pada 1987 dan dimiliki Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. 

Untuk menilai perbedaan-perbedaan tersebut, pertanyaan yang perlu diajukan ialah:

  • Apakah dua nama merupakan nama lahir dan gelar orang yang sama?
  • Apakah nama leluhur dipakai kembali oleh keturunannya?
  • Apakah suatu ringkasan melewati beberapa generasi?
  • Apakah hubungan yang dibicarakan merupakan hubungan kelahiran, perkawinan, pengangkatan, atau hubungan pemujaan?
  • Apakah penyusun menggunakan naskah yang berbeda?

Pertanyaan-pertanyaan itu perlu dijawab dari sumbernya. Menggabungkan semua nama menjadi satu rantai panjang justru dapat menghasilkan hubungan ayah–anak yang tidak pernah dinyatakan dalam naskah.

7. Pura dan tempat yang berkaitan dengan Pasek Tohjiwa

Beberapa tempat berikut dapat ditelusuri dari sumber yang tersedia:

TempatKeterangan yang dapat diperiksa
Pura Agung Pasek Tohjiwa, Banjar Tohjiwa, Desa Kertabuana, Kecamatan Sidemen, KarangasemLokasi dan kegiatan pasemetonannya tercatat dalam berita resmi Setda Badung. Berita 2019 juga menyebut upaya pembangunan parahyangan tersebut dimulai pada 1997.
Pura Gunung Sari, Banjar Gunung, BudukTulisan keluarga Jakatebel menyebutnya sebagai tempat yang berfungsi sebagai pura kawitan dalam tradisi keluarga yang dibahas.
Jeroan Gede Jakatebel dan Jeroan Gede TangguntitiMenjadi dua pusat keluarga dalam riwayat Pasek Tohjiwa Tangguntiti. 
Pura Pasek Tohjiwa, Banjar Delod Yeh, Desa Kekeran, MengwiKeberadaan pura dan cerita asal pengemponnya dijelaskan dalam situs resmi Desa Kekeran.

Daftar tersebut berguna sebagai titik penelusuran. Hubungan sebuah keluarga dengan pura tertentu tetap perlu ditentukan melalui riwayat dadia dan keterangan pengemponnya. Riwayat leluhur juga perlu dibedakan dari riwayat pembangunan bangunan pura yang sekarang.

8. Menyambungkan silsilah umum dengan silsilah keluarga

Bagan leluhur di atas memberikan gambaran tradisi Pasek Tohjiwa. Untuk menyambungkannya sampai kepada keluarga tertentu, penelusuran paling kuat dimulai dari generasi yang sudah diketahui, kemudian bergerak ke atas.

Urutan kerja yang dapat dipakai:

  1. Catat nama orang tua, kakek-nenek, dan leluhur terdahulu, termasuk nama panggilan atau gelar yang berbeda.
  2. Tentukan desa atau banjar asal sebelum perpindahan keluarga. Tempat tinggal sekarang belum tentu menjadi tempat asal dadia.
  3. Catat nama lengkap pura dadia, paibon, atau kawitan yang disungsung keluarga.
  4. Periksa babad, prasasti keluarga, buku silsilah, dan catatan pengempon, sambil mencatat siapa pemilik atau penyimpan setiap sumber.
  5. Bandingkan keterangan beberapa pengelingsir, terutama ketika ada perbedaan nama atau urutan generasi.
  6. Tandai hubungan yang belum diketahui, sehingga bagan tidak memberi kesan bahwa semua generasi sudah tersambung.

Untuk penelusuran lebih khusus, dua informasi yang paling membantu adalah desa/banjar asal leluhur dan nama pura dadia atau kawitan keluarga. Dari titik itu dapat diperiksa apakah jalurnya mengikuti Tangguntiti–Jakatebel, Buduk, Kekeran, atau cabang Pasek Tohjiwa lainnya.


Posted

in

,

by