Pengertian, Sejarah, Sumber Sastra, dan Pelaksanaannya di Bali
Hari Raya Saraswati adalah hari suci umat Hindu untuk memuliakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Sang Hyang Aji Saraswati, sumber ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Di Bali, perayaan ini ditandai dengan pemujaan Saraswati serta penghormatan terhadap kitab suci, lontar, buku, dan sarana pembelajaran. Perayaannya berlangsung setiap Saniscara Umanis Wuku Watugunung, atau setiap 210 hari. Hindu Dharma
Untuk memahaminya secara utuh, perlu dibedakan antara ajaran tentang Saraswati dalam Weda, perkembangannya dalam sastra Hindu, dan tata perayaan yang diwariskan dalam tradisi Bali.

1. Pengertian Hari Raya Saraswati
Hari pemuliaan ilmu pengetahuan
Dalam tradisi Hindu di Bali, Saraswati lazim disebut sebagai hari turunnya ilmu pengetahuan atau pawedalan Sang Hyang Aji Saraswati. Saraswati juga dipuja sebagai Hyang Hyangning Pangaweruh, yakni sumber suci pengetahuan. Ilmu yang dimuliakan mencakup pengetahuan, sastra, seni, dan pemahaman spiritual. Jawa Tengah Kemenag
Ungkapan “turunnya ilmu pengetahuan” perlu dipahami sebagai pemaknaan keagamaan terhadap anugerah pengetahuan, bukan penetapan tanggal sejarah ketika manusia pertama kali mengenal ilmu. Dalam penjelasan Bimas Hindu, perayaan Saraswati mengajak manusia tidak hanya menjadi cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki pikiran jernih, kemampuan membedakan yang baik dan buruk, serta tanggung jawab dalam menggunakan ilmunya. https://bimashindu.kemenag.go.id
Dengan demikian, inti perayaannya dapat dirumuskan sebagai: bersyukur atas pengetahuan, menyucikan cara berpikir, dan mengarahkan ilmu untuk kebaikan.
Makna perlambang Dewi Saraswati
Penggambaran Saraswati mengandung pesan pendidikan dan spiritual. Pustaka atau lontar melambangkan pengetahuan; genitri mengingatkan bahwa pengetahuan tidak habis dipelajari; wina, alat musik berdawai, melambangkan seni dan keharmonisan; teratai melambangkan kesucian; sedangkan angsa melambangkan kebijaksanaan. Atribut tersebut membantu menjelaskan bahwa ilmu perlu berjalan bersama keindahan, kesucian pikiran, dan kemampuan menimbang tindakan. Jawa Tengah Kemenag
2. Sejarah dan Waktu Pelaksanaan
A. Akar pemujaan Saraswati dalam Weda
Pemujaan Saraswati memiliki akar dalam Ṛgveda. Dalam kitab ini, Saraswati tampil sebagai sosok ilahi yang berhubungan dengan sungai, kehidupan, inspirasi, dan pemikiran luhur. Ṛgveda 2.41.16 memujinya sebagai ibu, sungai, dan dewi yang utama, sedangkan Ṛgveda 1.3.10–12 menghubungkannya dengan pujian, pikiran yang baik, dan penerangan batin. Jadi, hubungan Saraswati dengan pengetahuan bukan gagasan yang baru muncul dalam perayaan modern. Internet Sacred Text Archive
Dalam perkembangan sastra Hindu, Saraswati semakin dikenal sebagai dewi tutur kata, sastra, dan pengetahuan, serta sebagai śakti Brahma. Kajian Gusti Nyoman Mastini mengenai Kakawin Wrettasancaya menjelaskan perkembangan pemaknaan tersebut dan kedudukannya dalam tradisi Hindu Jawa–Bali. Garuda
B. Saraswati dalam tradisi sastra Jawa–Bali
Salah satu bukti penting penghormatan terhadap Saraswati dalam sastra Jawa Kuna terdapat pada Kakawin Wrettasancaya karya Mpu Tanakung. Pada bagian pembuka atau manggala, pengarang memuja Sang Hyang Wāgīśwarī, sebutan Saraswati dalam hubungannya dengan tutur kata dan sastra.
Melalui pemujaan tersebut, pengarang memohon agar Saraswati bersemayam dalam hatinya, memberikan keselamatan, dan menganugerahkan kemampuan memahami sastra. Ini menunjukkan eratnya hubungan antara kegiatan menulis, belajar, dan penghayatan spiritual dalam tradisi sastra tersebut. Garuda
Namun, keberadaan pemujaan Saraswati dalam sastra tidak dengan sendirinya membuktikan kapan tepatnya perayaan Saniscara Umanis Watugunung pertama kali ditetapkan di Bali. Dari sumber yang saya periksa, belum ada dasar yang cukup untuk menyebut satu tahun awal atau satu tokoh sebagai pencetus tunggal perayaan tersebut.
C. Hubungan dengan kisah Watugunung
Tradisi Pawukon juga dijelaskan melalui kisah sakral Watugunung dan Sinta. Dalam susunan kalender, Watugunung berada pada bagian akhir, sedangkan Sinta menjadi awal siklus berikutnya. Saraswati jatuh pada penutup siklus tersebut, kemudian diikuti Banyu Pinaruh sebagai permulaan siklus baru.
Kajian Jean Couteau mengenai mitos Watugunung menjelaskan hubungan antara cerita tersebut, tatanan waktu, dan ritual pergantian siklus. Kisah Watugunung penting sebagai narasi keagamaan dan kebudayaan, tetapi perlu dibedakan dari kronik sejarah yang digunakan untuk menetapkan tahun berdirinya suatu perayaan. Jurnal Universitas Gadjah Mada
D. Kapan Hari Raya Saraswati dilaksanakan?
Hari Raya Saraswati di Bali dilaksanakan pada:
Saniscara Umanis Wuku Watugunung.
Saniscara berarti Sabtu, sedangkan Umanis, yang juga disebut Legi, merupakan nama hari dalam siklus Pancawara. Perayaan ini berulang setiap 210 hari. Denpasar Tourism
Pawukon terdiri atas 30 wuku, masing-masing tujuh hari, sehingga satu siklusnya adalah 30 × 7 = 210 hari. Watugunung merupakan wuku terakhir, dan Saraswati jatuh pada hari terakhir siklus itu. Oleh karena itu, ungkapan “setiap enam bulan” dalam pembicaraan sehari-hari tidak berarti enam bulan kalender Masehi. Jurnal Universitas Gadjah Mada
Pada 2026, Hari Raya Saraswati jatuh pada Sabtu, 4 April 2026, dan Sabtu, 31 Oktober 2026. Tanggal Masehinya berubah, tetapi patokan Pawukonnya tetap. https://bimashindu.kemenag.go.id
3. Sumber Sastra dan Weda
Dasar pemujaan Saraswati dan dasar penanggalan upacaranya tidak berasal dari jenis sumber yang sama.Mantra Weda memuat pujian kepada Saraswati; sementara petunjuk khusus mengenai hari raya, upakara, dan brata di Bali ditemukan dalam tradisi lontar, terutama Sundarigama. Green Message
A. Ṛgveda 1.3.10–12: Saraswati sebagai pembangkit pikiran luhur
Tiga mantra pada akhir Ṛgveda 1.3 ditujukan kepada Saraswati. Salah satunya ialah Ṛgveda 1.3.11:
Codayitrī sūnṛtānāṃ
cetantī sumatīnām,
yajñaṃ dadhe sarasvatī.
Terjemahan maknanya: Saraswati, yang mendorong ucapan yang baik dan membangkitkan pikiran luhur, menopang pelaksanaan yajña. Green Message
Mantra berikutnya, Ṛgveda 1.3.12, menggambarkan Saraswati sebagai aliran besar yang menerangi dan mencerahkan pemikiran. Rangkaian ini menjadi landasan penting untuk memahami hubungan Saraswati dengan inspirasi, kejernihan pikiran, dan kehidupan keagamaan. Akan tetapi, mantra-mantra tersebut tidak menetapkan perayaan pada Sabtu Umanis Watugunung. Internet Sacred Text Archive
B. Ṛgveda 2.41.16: Saraswati sebagai ibu, sungai, dan dewi
Dalam Ṛgveda 2.41.16, Saraswati dipuji sebagai ibu yang utama, sungai yang utama, dan dewi yang utama. Mantra ini penting karena memperlihatkan bahwa pemahaman Weda tentang Saraswati lebih luas daripada gambaran “dewi pelajaran sekolah”: ia juga berkaitan dengan aliran kehidupan, pemeliharaan, dan kesucian. Internet Sacred Text Archive
Karena itu, ketika membahas sejarah Saraswati, dimensi sungai dan kehidupan dalam Weda sebaiknya tidak dihilangkan.
C. Bhagavadgītā 4.38: pengetahuan sebagai penyuci
Bhagavadgītā 4.38 menyatakan:
Na hi jñānena sadṛśaṃ
pavitram iha vidyate.
Makna bagian awal sloka tersebut adalah: di dunia ini tidak ada penyuci yang sebanding dengan pengetahuan.Dalam konteksnya, jñāna terutama menunjuk pada pengetahuan spiritual yang membebaskan manusia dari ketidaktahuan, bukan sekadar penguasaan informasi. Vedabase
Sloka ini relevan sebagai landasan filosofis untuk memuliakan pengetahuan, tetapi bukan perintah langsung mengenai Hari Raya Saraswati atau susunan bantennya. Bhagavadgītā juga perlu dibedakan dari mantra-mantra Ṛgveda yang secara langsung menyebut Saraswati.
D. Lontar Sundarigama: pedoman khusus perayaan di Bali
Lontar Sundarigama merupakan salah satu rujukan utama pelaksanaan rerahinan di Bali, termasuk Saraswati. Dalam petikan yang dipublikasikan Pemerintah Kabupaten Klungkung terdapat kalimat:
“Watugunung, Saniscara, Umanis, puja walin Betara Saraswati …”
Petikan tersebut menghubungkan Saniscara Umanis Watugunung dengan pemujaan Saraswati. Uraiannya juga menyebut penataan pustaka, persembahan, serta pengendalian aktivitas membaca dan menulis selama pemujaan. Dinas Klungkung
Dengan demikian, Sundarigama memberikan petunjuk yang lebih langsung tentang pelaksanaan hari raya di Bali. Kedudukannya perlu disebut secara tepat sebagai sastra keagamaan tradisi Bali, bukan disamakan dengan salah satu kitab Catur Weda Saṃhitā.
Ringkasnya: Ṛgveda memberi dasar pemujaan Saraswati; Bhagavadgītā menjelaskan kemuliaan pengetahuan; kakawin memperlihatkan penghayatannya dalam tradisi sastra Jawa–Bali; sedangkan Sundarigama menjadi rujukan khusus tata perayaan.
4. Tata Pelaksanaan Hari Raya Saraswati di Bali
Uraian berikut merupakan gambaran praktik umum. Untuk pelaksanaan di rumah, sekolah, atau pura tertentu, susunan upakara dan puja sebaiknya mengikuti tuntunan pemangku atau sulinggih yang membimbingnya.
A. Menata pustaka dan sarana pembelajaran
Buku pelajaran, kitab suci, lontar, serta sarana pembelajaran ditata untuk menerima persembahan. Pelaksanaannya dapat berlangsung di rumah, tempat suci, sekolah, dan perpustakaan. Praktik ini menegaskan penghormatan terhadap pengetahuan serta sarana yang memungkinkan manusia mempelajarinya. RRI.co.id
Persiapan praktis dapat dilakukan sebelumnya: membersihkan tempat, merapikan buku, serta menyiapkan sarana sembahyang. Untuk lontar tua atau koleksi yang rapuh, perawatan sebaiknya dilakukan dengan hati-hati, bukan dibersihkan secara sembarangan hingga merusak naskahnya.
B. Menyiapkan dan menghaturkan upakara Saraswati
Dalam penjelasan Ketut Wiana yang dimuat Hindu Dharma, perangkat inti upacara mencakup banten Saraswati, daksina, beras wangi, dan air kumkuman. Pada susunan yang lebih besar dapat ditambahkan sesayut Saraswati, tumpeng, serta sodaan putih-kuning. Hindu Dharma
Sementara itu, petikan Sundarigama juga menyebut perangkat seperti suci, peras, daksina, ajuman, sesayut Saraswati, bunga, dan kelengkapannya. Daftar ini menunjukkan perangkat yang disebut dalam sumber, bukan alasan untuk menyatakan bahwa seluruh rumah tangga di Bali harus menggunakan satu susunan yang persis sama. Dinas Klungkung
Untuk menentukan tandingan yang akan digunakan, mintalah petunjuk pemangku atau sarati banten setempat agar sesuai dengan bentuk upacara yang dilaksanakan.
C. Melaksanakan pemujaan dan persembahyangan
Pelaksanaan pemujaan lazimnya berlangsung pada pagi hari. Buku Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XI, dengan merujuk Sundarigama, menempatkan pemujaan Saraswati pada pagi atau tengah hari. repositori.kemendikdasmen.go.id
Secara umum, rangkaian persembahyangan dapat digambarkan sebagai berikut:
Penghaturan upakara dan puja Saraswati → Puja Tri Sandhya → Panca Sembah → nunas tirta dan bija → penutup.
Urutan tersebut, misalnya, terdokumentasi dalam penelitian tentang pelaksanaan Puja Saraswati di STKIP Agama Hindu Singaraja. Pemangku menghaturkan puja dan persembahan, kemudian umat mengikuti persembahyangan bersama serta menerima tirta dan bija. Garuda
Ini merupakan gambaran alur, bukan pengganti pedoman kepemangkuan. Bagian puja dan mantra ritual hendaknya mengikuti pemimpin upacara.
D. Melaksanakan Brata Saraswati
Salah satu bagian yang sering menimbulkan pertanyaan adalah pembatasan membaca dan menulis.
Buku pendidikan Hindu menjelaskan dua bentuk pelaksanaan: pembatasan dari pagi hingga tengah hari, setelah itu kegiatan membaca dan menulis dapat dilakukan kembali; serta brata penuh selama 24 jam bagi yang menjalaninya. Karena itu, penjelasan “semua umat mutlak tidak boleh membaca selama 24 jam” tidak mewakili seluruh bentuk pelaksanaan yang diterangkan dalam sumber tersebut. repositori.kemendikdasmen.go.id
Artikel Kanwil Kementerian Agama Jawa Tengah, di sisi lain, menekankan bentuk brata 24 jam sebagai pengendalian diri ketika pustaka ditata dan dimuliakan. Kedua penjelasan ini memperlihatkan perlunya menyebut bentuk brata yang sedang dibicarakan, bukan mencampurnya menjadi satu aturan tanpa keterangan. Jawa Tengah Kemenag
Brata tersebut dapat dipahami sebagai kesempatan untuk berhenti sejenak dari kesibukan mengolah aksara, lalu memusatkan perhatian pada pemujaan dan perenungan. Untuk praktik pribadi, ikuti tuntunan keagamaan yang berlaku dalam keluarga atau lingkungan pemujaan.
E. Malam sastra dan perenungan
Dalam pelaksanaan yang membolehkan membaca kembali setelah tengah hari, malam Saraswati dapat diisi dengan malam sastra, pembacaan ajaran suci, dan perenungan. Buku pendidikan Hindu menyebut malam sastra serta sambang samadhi sebagai kegiatan yang dianjurkan. repositori.kemendikdasmen.go.id
Bagi yang memilih brata penuh 24 jam, kegiatan malam perlu diselaraskan dengan brata tersebut. Dengan begitu, anjuran malam sastra dan pembatasan membaca tidak diperlakukan sebagai dua kewajiban yang harus dilaksanakan bersamaan tanpa memperhatikan konteksnya.
F. Banyu Pinaruh pada keesokan harinya
Sehari sesudah Saraswati, yaitu Redite Paing Wuku Sinta, dilaksanakan Banyu Pinaruh. Dalam praktik masyarakat Bali, penyucian dapat dilakukan di sumber air, tempat pelukatan, atau pantai. Secara filosofis, Banyu Pinaruh dimaknai sebagai penyucian diri dengan “air pengetahuan”, yakni mengatasi kekotoran pikiran melalui pengetahuan suci. Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Buleleng
Dalam uraian Ketut Wiana juga disebut persembahan nasi pradnyan, air kumkuman, dan loloh sad rasa, diikuti penerimaan lungsuran serta matirta. Perangkat ini merupakan bagian dari penjelasan tradisional Banyu Pinaruh. Hindu Dharma
Secara praktis, pilih tempat penyucian yang aman dan ikuti petunjuk pengelolanya. Jangan memaksakan masuk ke laut ketika kondisi ombak atau arus membahayakan.
G. Hubungan dengan rangkaian sampai Pagerwesi
Saraswati sering dijelaskan bersama rangkaian hari suci sesudahnya. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangli menguraikan hubungan tersebut sebagai proses menerima pengetahuan, menyucikan diri, mensyukuri penopang kehidupan, dan meneguhkan tuntunan spiritual. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan
| Hari suci | Waktu relatif | Pokok makna dalam rangkaian |
|---|---|---|
| Saraswati | Sabtu Umanis Watugunung | Memuliakan anugerah ilmu pengetahuan. |
| Banyu Pinaruh | Minggu sesudah Saraswati | Penyucian diri dan penggunaan ilmu untuk tujuan mulia. |
| Soma Ribek | Senin berikutnya | Mensyukuri kesuburan dan kecukupan pangan. |
| Sabuh Mas | Selasa berikutnya | Mensyukuri anugerah kesejahteraan dan pemenuhan kebutuhan hidup. |
| Pagerwesi | Rabu Kliwon Sinta | Meneguhkan tuntunan spiritual agar kehidupan tetap berada di jalan dharma. |
Rangkaian dan makna dalam tabel tersebut merupakan ringkasan penjelasan sumber pemerintah daerah, bukan berarti seluruhnya adalah satu upacara yang dilaksanakan sekaligus. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan
Inti Penghayatan Saraswati
Perayaan Saraswati tidak berhenti ketika buku selesai diupacarai. Bimas Hindu menekankan bahwa penghormatan terhadap pengetahuan perlu diteruskan melalui kemauan belajar, kejernihan menilai informasi, sikap tidak menyalahgunakan kecerdasan, dan penggunaan ilmu untuk melayani kehidupan bersama. https://bimashindu.kemenag.go.id
Buku dan lontar dimuliakan dalam upacara; pengetahuannya dipelajari; kebijaksanaannya diwujudkan dalam perilaku.
