Bhisama Pasek adalah kumpulan aturan, ajaran, dan pedoman hidup yang berlaku bagi krama (anggota) soroh Pasekdi Bali. Kata bhisama sendiri berarti “wejangan suci” atau “ketetapan leluhur” yang harus dihormati dan dijalankan.
Berikut penjelasan inti secara jelas:
1. Makna Bhisama Pasek
Bhisama Pasek merupakan pedoman spiritual dan sosial yang diwariskan oleh leluhur Pasek, terutama berkaitan dengan:
- Tata krama kehidupan
- Hubungan antar sesama Pasek
- Hubungan dengan soroh lain
- Kewajiban adat dan agama
Biasanya dikaitkan dengan ajaran dari tokoh leluhur seperti Mpu Kuturan yang berperan penting dalam sistem kemasyarakatan Bali.
2. Isi Pokok Bhisama Pasek
Walaupun ada variasi antar daerah, secara umum mencakup:
a. Persatuan dan solidaritas
- Sesama Pasek harus saling membantu dan tidak saling menjatuhkan
- Dilarang memecah belah soroh
b. Etika dan perilaku
- Menjaga sikap, ucapan, dan perbuatan sesuai dharma
- Menghindari konflik dan perbuatan yang merugikan orang lain
c. Kewajiban adat & agama
- Ngayah di pura kawitan / pura Pasek
- Menghormati leluhur dan menjaga warisan budaya
d. Larangan tertentu
- Tidak boleh melupakan asal-usul (kawitan)
- Tidak menyalahgunakan status atau identitas Pasek
3. Fungsi Bhisama Pasek
Bhisama ini berfungsi sebagai:
- Pedoman hidup → menjaga moral dan etika
- Pengikat sosial → memperkuat rasa persaudaraan
- Identitas budaya → menjaga eksistensi soroh Pasek
- Kontrol sosial → mencegah konflik internal
4. Bhisama Pasek di Era Modern
Saat ini, Bhisama Pasek tetap relevan, namun sering ditafsirkan lebih fleksibel:
- Lebih menekankan nilai persatuan dan etika, bukan sekadar aturan kaku
- Digunakan untuk memperkuat organisasi seperti MGPSSR (Mahagotra Pasek Sanak Sapta Rsi)
- Menjadi dasar kegiatan sosial, budaya, dan keagamaan
5. Inti Filosofinya
Kalau dirangkum sederhana:
“Menjaga keharmonisan antara manusia, leluhur, dan sesama melalui dharma.”
Ini sejalan dengan konsep Tri Hita Karana:
- Parahyangan (hubungan dengan Tuhan)
- Pawongan (sesama manusia)
- Palemahan (lingkungan)
Berikut ini isi / bunyi Bhisama Pasek yang umum dikenal dalam tradisi Bali. Perlu dipahami, Bhisama ini tidak tunggal dalam satu naskah baku, melainkan diwariskan secara turun-temurun dan bisa sedikit berbeda antar daerah atau dadia Pasek.
Bhisama Pasek (Versi Ringkasan Isi Utama)
1. Tentang Persatuan
Krama Pasek wajib nyaga rasa pasemetonan, saling asah, asih, asuh, sareng sami Pasek.
Makna:
- Sesama Pasek harus bersatu
- Tidak boleh saling menjatuhkan atau bermusuhan
2. Tentang Asal-usul (Kawitan)
Krama Pasek tan dados lali ring kawitan, wajib eling sareng bhakti ring leluhur.
Makna:
- Tidak boleh melupakan asal-usul (sanggah/pura kawitan)
- Wajib menghormati dan berbakti kepada leluhur
3. Tentang Etika dan Dharma
Krama Pasek wajib nglaksanayang dharma, nyaga ucapan, pikayunan, lan perbuatan.
Makna:
- Menjaga perilaku (pikiran, ucapan, tindakan)
- Hidup sesuai ajaran dharma
4. Tentang Hubungan Sosial
Krama Pasek tan dados nyakitin sareng ngerendahang sesami, miwah wajib saling tulung tinulung.
Makna:
- Tidak menyakiti atau merendahkan orang lain
- Wajib saling membantu
5. Tentang Kewajiban Adat & Agama
Krama Pasek wajib ngayah ring pura kawitan miwah pura kahyangan jagat.
Makna:
- Wajib ikut kegiatan adat (ngayah)
- Menjaga pura dan tradisi
6. Tentang Larangan
Tan dados nganggen soroh Pasek antuk pamrih sane nenten becik.
Makna:
- Tidak boleh memakai identitas Pasek untuk kepentingan buruk
- Tidak menyalahgunakan status atau nama soroh
7. Tentang Kerukunan Antar Soroh
Krama Pasek wajib nyaga kerukunan sareng soroh sane lianan.
Makna:
- Harus hidup rukun dengan semua golongan (tidak eksklusif)
- Tidak menciptakan konflik antar soroh
Inti Bhisama Pasek
Kalau diringkas dalam satu kalimat:
“Ngajaga pasemetonan, eling kawitan, ngelaksanayang dharma, lan nyaga kerahayuan jagat.”
Catatan Penting
- Bhisama ini sering diperkuat dalam organisasi seperti MGPSSR
- Nilainya sejalan dengan konsep Tri Hita Karana
- Lebih bersifat etika hidup daripada hukum tertulis yang kaku

ini adalah kutipan Bhisama Ida Bhatara Kawitan Mpu Gnijaya, salah satu dasar penting dalam tradisi Pasek.
Inti Bunyi Bhisama (Disederhanakan)
Pesan utama dari Bhisama tersebut:
Jangan pernah melupakan kahyangan (pura asal/kawitan), khususnya:
- Pura Lempuyang
- Pura Besakih
- Pura Dalem Gelgel Dasar Bhuana
- (termasuk juga Çilayukti / Silayukti)
Terjemahan Makna Mendalam
1. Tentang Kawitan (Asal Spiritual)
Jika orang Pasek melupakan kahyangan-nya, maka:
- Hidup tidak harmonis
- Keluarga sering konflik
- Rejeki tidak seimbang (banyak kerja, kurang hasil)
👉 Ini bukan “kutukan”, tapi konsekuensi spiritual & psikologis karena kehilangan akar identitas dan keseimbangan hidup.
2. Tentang Amanat Leluhur
“Piteketku ri pratisentana…”
Artinya:
- Ini adalah pesan langsung leluhur kepada keturunannya
- Bersifat wajib dihormati, bukan sekadar saran
👉 Dalam konteks Bali, ini mirip “charter hidup” atau spiritual constitution.
3. Larangan Utama
- Tidak boleh melupakan kawitan
- Tidak boleh mengabaikan ajaran leluhur
- Tidak boleh menyimpang dari dharma
4. Janji / Anugerah Jika Taat
Jika menjalankan bhisama:
- Dirgha yusa → umur panjang
- Wiryagunamanta → kuat, berwibawa
- Siddhi ngucap → kata-kata berpengaruh / terkabul
- Asihing Hyang → dicintai Tuhan
- Dibya guna → kebijaksanaan tinggi
- Susila weruhing naya → beretika & memahami kepemimpinan
👉 Ini menunjukkan bahwa Bhisama bukan hanya larangan, tapi juga jalan menuju kualitas hidup tinggi.
Inti Filosofi (Paling Penting)
Kalau diringkas sangat tajam:
“Identitas Pasek itu ada pada hubungan dengan kawitan.
Kalau itu putus, hidup ikut goyah.”
Interpretasi Modern (Penting)
Kalau dibawa ke konteks sekarang:
- “Tidak lupa kahyangan” ≠ hanya ritual
- Tapi juga:
- Menjaga nilai leluhur
- Menjaga integritas
- Tidak kehilangan jati diri
👉 Jadi ini bukan sekadar adat, tapi framework kehidupan dan kepemimpinan.
Insight Strategis (Kalau kamu lihat lebih dalam)
Bhisama ini sebenarnya sangat kuat untuk:
- Branding komunitas Pasek
- Leadership philosophy
- Cultural identity system
- Bahkan positioning seperti yang kamu lakukan di bisnis (nilai, akar, konsistensi)

