Sang Hyang Catur Dewi dalam konteks Pura Dalem

Whispers of the Forgotten Past: The Untold Story of Pura Durga Kutri

Arca Durgā Mahiṣāsuramardinī di Pura Bukit Dharma Durga Kutri merupakan salah satu contoh ikonografi Bhatari Durga di Bali. Arca ini membantu memahami aspek pelindung dan penakluk kekacauan, tetapi bukan gambaran baku “empat sosok Catur Dewi”.


Mantra yang Anda maksud memang merupakan kunci penting untuk memahami Sang Hyang Catur Dewi yang berkaitan dengan Pura Dalem.

Untuk konteks mantra ini, pengertian “Sang Hyang Catur Dewi” perlu dibedakan dari Catur Bhagini maupun Catur Dewi Catur Danu. Dalam mantra Pura Dalem tersebut, Beliau tidak terutama dijelaskan sebagai empat Dewi yang masing-masing mempunyai nama berbeda.

Sang Hyang Catur Dewi adalah satu Sang Mahādevī atau Mahāśakti—Śakti Sang Hyang Śiwa—yang mempunyai kemahakuasaan beraspek empat, menaungi Catur Āśrama, dan mengambil wujud atau masarirasebagai Bhatari Durga.

Buku Pendidikan Agama Hindu yang menerangkan mantra Pura Dalem menerjemahkan bagian pertamanya sebagai:

“Ya Tuhan, Śakti-Mu berwujud Catur Sakti.”

Catur Sakti tersebut dalam ajaran Śiwa Tattwa terdiri atas Wibhu Sakti, Prabhu Sakti, Jñāna Sakti, dan Kriyā Sakti. (Scribd)


1. Redaksi mantra yang beredar di Bali

Dalam bentuk yang dinormalisasi secara akademis dan sering dihubungkan dengan Stuti dan Stava nomor 308.2, mantra itu berbunyi:

Oṁ catur-divyā mahāśakti
catur-āśrame Bhaṭṭārī
Śiva-jagat-pati-devī
Durgā-ma-śarīra-devī.

Redaksi tersebut diterjemahkan sebagai pemujaan kepada kekuatan ilahi yang agung, yang dipuja dalam empat tahapan kehidupan, merupakan Śakti Sang Hyang Śiwa Jagatpati, dan hadir dalam wujud Dewi Durga. (Pikiran Rakyat Buleleng)

Dalam pelafalan yang lebih populer di Bali, dijumpai bentuk:

Om Catur Dewi Maha Dewi,
Catur Asrama Bhatari,
Siwa Jagatpati Dewi,
Durga masarira Dewi.

Ada pula bentuk yang dilanjutkan dengan:

Om anugraha amerta,
sarwa lara winasanam,
ya namah swaha.

Atau ditutup dengan:

Om Durga Dewi dipataye namo namah.

Perbedaan antara catur-divyā mahāśakticatur dewi mahadewimasarirama sariraBhatariBhattari, dan Betarimerupakan variasi redaksi, ejaan, dan pelafalan yang berkembang dalam tradisi kepamangkuan dan persembahyangan Bali. Kumpulan stuti Bali memang banyak menggunakan bentuk yang disebut Indonesianized Sanskrit atau Sanskerta yang telah dipengaruhi pola bahasa Jawa Kuna dan Bali. Teun Goudriaan bahkan memberikan contoh khusus bahwa bentuk ma-sarira berarti “embodied” atau “mengambil perwujudan”. (Internet Archive)

Oleh sebab itu, bentuk populer “Catur Dewi Maha Dewi” tidak perlu langsung dianggap salah. Namun, untuk menguraikan maknanya secara teologis, bentuk “catur-divyā mahāśakti” memberikan petunjuk yang lebih jelas: yang dipuja adalah satu Mahāśakti yang mempunyai aspek kemahakuasaan empat.


2. Arti mantra baris demi baris

Baris mantraArti dasarMakna teologis
Oṁ catur-divyā mahāśaktiatau Om Catur Dewi Maha DewiSang Mahāśakti ilahi yang beraspek empatSatu Mahādevī dengan empat kemahakuasaan, bukan harus empat pribadi Dewi yang terpisah
Catur-āśrame BhaṭṭārīBhatari yang hadir, dipuja, atau menaungi empat āśramaBeliau melindungi manusia dalam seluruh tahapan kehidupan
Śiva-jagat-pati-devīSang Dewi yang merupakan Śakti Śiwa, Penguasa JagatDurga bukan kekuatan yang berdiri di luar Śiwa, tetapi daya aktif Sang Hyang Śiwa
Durgā-ma-śarīra-devīSang Dewi yang mengambil tubuh atau perwujudan sebagai DurgaMahādevī hadir dalam aspek Durga untuk menjaga, menertibkan, melebur, dan memulihkan keseimbangan
Anugraha amertaAnugerahkanlah amertaPermohonan kehidupan, kerahayuan, keselamatan, dan kesucian
Sarwa lara winasanamMusnahkanlah segala penderitaan atau penyakitDurga dimohon sebagai penyembuh, pembebas penderitaan, dan pelindung

Jadi, terjemahan utuh yang lebih kontekstual dapat dirumuskan:

“Om, sembah kepada Sang Mahādevī, Mahāśakti yang beraspek empat. Bhatari yang hadir dan dipuja dalam keempat tahapan kehidupan; Śakti Sang Hyang Śiwa, Penguasa alam semesta; Sang Dewi yang mengambil perwujudan sebagai Bhatari Durga. Anugerahkanlah amerta dan lenyapkanlah segala penderitaan.”


3. Siapakah “empat” dalam Catur Dewi?

Jawaban tekstual

Bait mantra tersebut tidak menyebut empat nama Dewi satu per satu. Ia tidak mengatakan, misalnya, “Dewi pertama adalah A, Dewi kedua adalah B,” dan seterusnya.

Kata yang menjadi pusat kalimat adalah Mahāśakti atau “Kekuatan Agung”. Kata catur menerangkan bahwa kekuatan agung itu mempunyai dimensi atau kemahakuasaan empat.

Karena itu, pembacaan paling aman ialah:

Catur Dewi berarti Sang Dewi Agung dalam empat kemahakuasaan-Nya.

Penjelasan menurut Catur Sakti

Dalam Wṛhaspati Tattwa, kemahakuasaan Sang Hyang Sadāśiwa dijelaskan sebagai:

Catur SaktiPengertianMakna dalam konteks Sang Mahādevī
Wibhu SaktiMaha Ada dan meresapi seluruh keberadaanBeliau tidak hanya berada di setra atau Pura Dalem, tetapi meresapi seluruh alam
Prabhu SaktiMaha Kuasa dan berdaulatBeliau menguasai proses kelahiran, kehidupan, perubahan, kematian, dan pralina
Jñāna SaktiMaha MengetahuiBeliau mengetahui sebab penderitaan, kekotoran, ketidakseimbangan, dan jalan pemurniannya
Kriyā SaktiMaha Karya, Maha Bertindak atau Maha MenciptaBeliau merupakan daya yang benar-benar bekerja: mencipta, memelihara, melindungi, melebur, dan menyucikan

Sumber ajaran tersebut menyebut Catur Sakti sebagai empat kemahakuasaan Sang Hyang Śiwa yang memancar ke empat penjuru alam semesta. (Parisada Hindu Dharma Indonesia)

Dalam mantra Pura Dalem, empat kemahakuasaan itu dipuja dalam bentuk feminin sebagai Mahādevī, sebab Śakti adalah daya aktif Ketuhanan.

Secara sederhana:

  • Śiwa adalah kesadaran ilahi;
  • Śakti adalah kemahakuasaan kesadaran itu;
  • Durga adalah Śakti tersebut ketika bekerja dalam fungsi perlindungan, pengendalian, peleburan, dan transformasi.

Dengan demikian, Bhatari Durga bukan “Dewi lain” yang terpisah dari Śiwa, tetapi Śiwa dalam aspek Śakti-Nya yang aktif.


4. Hubungan Sang Hyang Catur Dewi dengan Giri Putri

Dalam versi Durga Stawa yang lebih panjang, bait Catur Dewi didahului oleh pemujaan kepada Giri Putri:

Om Giri Putri Dewa-Dewi, Lokasraya Mahadewi …

Kemudian Sang Mahādevī disebut melalui berbagai nama dan daya, antara lain:

  • Uma,
  • Gangga,
  • Saraswati,
  • Gayatri,
  • Waisnawi.

Setelah itu barulah muncul bait:

Om Catur Divya Mahasakti, Catur Asrame Bhatari …

Susunan ini menunjukkan bahwa pusat pemujaannya adalah satu Giri Putri atau Mahādevī, sedangkan Uma, Gangga, Saraswati, Gayatri, Waisnawi, dan Durga merupakan nama, fungsi, atau aspek-aspek kekuatan Beliau. Salah satu tafsir Bali menjelaskan bahwa seluruh nama Dewi tersebut “lebur” dalam nama Giri Putri sebagai Mahādevī, pelindung dunia atau lokāśraya. (Scribd)

Makna Giri Putri

  • Giri berarti gunung.
  • Putri berarti putri atau kekuatan feminin utama.
  • Giri merupakan lambang acala liṅga, gunung sebagai lingga Śiwa yang tetap dan tidak bergerak.
  • Putri melambangkan Śakti, Prakṛti, Pārwatī atau kekuatan yang melahirkan dan menggerakkan kehidupan.

Dengan demikian, Giri Putri adalah Śakti Sang Hyang Śiwa yang berkedudukan sebagai sumber dan pelindung kehidupan.

Ketika Beliau hadir dalam sifat pemeliharaan, kesuburan, pengetahuan, penyucian, dan kemakmuran, Beliau dapat disebut Uma, Gangga, Saraswati, Gayatri atau Waisnawi. Ketika Beliau hadir untuk menaklukkan kekacauan, mengendalikan kekuatan destruktif, melebur kekotoran, dan memulihkan keseimbangan, Beliau disebut Durga.

Karena itu:

Giri Putri, Uma, Pārwatī, dan Durga bukan harus dipahami sebagai Dewi-Dewi yang tidak berhubungan, tetapi sebagai keadaan dan fungsi berbeda dari satu Mahāśakti.


5. Mengapa disebut “Catur Asrama Bhatari”?

Catur Āśrama adalah empat tahapan ideal kehidupan manusia:

TahapMakna
BrahmacariMasa belajar, pembentukan disiplin, pengetahuan, dan pengendalian diri
GṛhasthaMasa berumah tangga, bekerja, bermasyarakat, dan melaksanakan kewajiban sosial
WānaprasthaMasa mulai mengurangi keterikatan duniawi dan memperdalam kehidupan rohani
Bhikṣuka atau SannyāsaMasa penyerahan diri, pelepasan keterikatan, dan pemusatan kesadaran kepada Tuhan

Keempat tahapan tersebut merupakan satu perjalanan manusia dari pembentukan diri sampai pelepasan diri. (ojs.uhnsugriwa.ac.id)

Karena itu, kalimat “Catur Asrame Bhatari” mempunyai arti yang sangat luas. Bhatari Durga tidak hanya dipuja pada saat seseorang meninggal. Beliau menaungi manusia sejak masa belajar, berumah tangga, mengurangi keterikatan, sampai akhirnya melepaskan kehidupan duniawi.

Secara filosofis, perpindahan dari satu āśrama ke āśrama berikutnya dapat dipandang sebagai suatu pralina kecil:

  • seorang anak harus melebur sifat kekanak-kanakannya untuk menjadi pelajar yang bertanggung jawab;
  • seorang brahmacari harus melepas kehidupan sebelumnya untuk memasuki gṛhastha;
  • seorang gṛhastha harus mulai melepas kelekatan untuk memasuki wānaprastha;
  • seorang wānaprastha harus melepaskan identitas duniawi untuk memasuki sannyāsa;
  • pada akhirnya tubuh fisik pun dikembalikan kepada Panca Mahābhūta.

Dengan demikian, Sang Mahādevī sebagai Bhatari Durga adalah pelindung seluruh proses perubahan dan pelepasan manusia, bukan hanya penguasa kematian.


6. Hubungannya dengan Pura Dalem

Dalam struktur Kahyangan Tiga yang umum dikenal di Bali:

  • Pura Desa/Bale Agung berkaitan dengan utpatti, penciptaan;
  • Pura Puseh berkaitan dengan sthiti, pemeliharaan;
  • Pura Dalem berkaitan dengan pralina, peleburan dan pengembalian.

Di Pura Dalem, Sang Hyang Widhi dipuja sebagai Sang Hyang Śiwa dalam fungsi pralina, sedangkan daya aktif-Nya dipuja sebagai Bhatari Durga. Buku Pendidikan Agama Hindu juga secara langsung menyatakan bahwa Pura Dalem merupakan tempat memuja Śiwa sebagai pelebur dan Śakti-Nya adalah Dewi Durga. (Scribd)

Namun, pralina tidak identik dengan kejahatan atau pemusnahan tanpa tujuan. Pralina adalah:

  • mengembalikan unsur-unsur kepada sumbernya;
  • melebur bentuk yang telah selesai menjalankan fungsinya;
  • membersihkan kekotoran;
  • mengakhiri ketidakteraturan;
  • menyediakan ruang bagi kelahiran dan keseimbangan baru.

Inilah sebabnya Pura Dalem dan Bhatari Durga berhubungan dengan setra, kematian, penyakit, kekuatan tak terkendali, dan wilayah peralihan. Semua itu merupakan keadaan yang membutuhkan pengendalian, penyucian, dan transformasi.


7. Mengapa wujud Beliau kadang digambarkan menyeramkan?

Wujud Durga yang keras disebut aspek krodha atau ugra. Kerasnya wujud tersebut bukan karena Beliau jahat, melainkan karena fungsi yang dijalankan memang membutuhkan kekuatan besar.

Seorang ibu dapat tampil lembut ketika mengasuh anaknya, tetapi menjadi sangat keras ketika melindungi anaknya dari bahaya. Demikian pula Mahādevī:

  • sebagai Uma atau Gauri, Beliau memelihara;
  • sebagai Gangga, Beliau menyucikan;
  • sebagai Saraswati, Beliau menerangi pikiran;
  • sebagai Sri atau Laksmi, Beliau memberi kemakmuran;
  • sebagai Durga, Beliau menghadapi dan menghancurkan kekacauan.

Penelitian mengenai pemujaan Durga di Bali menunjukkan adanya penyempitan dan distorsi pandangan yang menghubungkan Durga semata-mata dengan setra, pangleakan, dan ilmu hitam. Padahal pemujaan Śakti juga berkaitan dengan kekuatan hidup, kesehatan, kreativitas, perlindungan, kejayaan, dan kesejahteraan. (Jayapangus Press)

Durga Mahiṣāsuramardinī, misalnya, digambarkan menaklukkan Mahiṣāsura. Secara simbolik, Mahiṣāsura dapat dipahami sebagai kekuatan liar, kesombongan, kebodohan, nafsu, kekerasan, dan kekacauan yang menguasai kehidupan. Durga adalah daya ilahi yang sanggup menundukkan kekuatan tersebut.


8. Isi Durga Stawa justru menunjukkan fungsi penyelamatan

Apabila mantra pendek tadi dibaca sebagai bagian dari Durga Stawa yang lebih lengkap, permohonan yang disampaikan meliputi:

  1. pemujaan kepada Giri Putri sebagai Mahādevī dan pelindung dunia;
  2. pemujaan kepada Catur Mahāśakti yang menaungi Catur Āśrama;
  3. permohonan pembebasan dari rintangan dan penderitaan;
  4. permohonan amerta serta penghapusan dosa dan kekotoran;
  5. pemujaan kepada Dewi sebagai Mahājñāna, dasar keberadaan dunia dan pemberi anugerah.

Versi panjangnya memuat ungkapan seperti sarwa duḥkha vimokṣanam, pembebasan dari segala penderitaan, serta sarwa pāpa vināśanam, penghancuran segala dosa atau kekotoran. (Scribd)

Artinya, tujuan pokok Durga Stawa bukan memohon kekuatan untuk mencelakai orang, tetapi:

  • perlindungan;
  • kerahayuan;
  • pembebasan dari penderitaan;
  • penyembuhan;
  • penyucian;
  • pemulihan keseimbangan;
  • dan anugerah kehidupan.

9. Makna penting kata “masarira”

Kata ini sering ditulis dalam berbagai bentuk:

  • masarira;
  • ma sarira;
  • mā śarīram;
  • ma-śarīra.

Dalam konteks bahasa stuti Bali, kata tersebut paling tepat dipahami sebagai:

mengambil tubuh, mengambil bentuk, menjelma, berwujud, atau termanifestasi.

Goudriaan, salah seorang penyunting kumpulan Stuti and Stava Bali, secara khusus menjelaskan bahwa dalam Sanskerta yang terindonesiakan terdapat bentuk ma-sarira yang berarti “embodied”. (Internet Archive)

Karena itu:

Durga masarira Dewi

bukan terutama berarti “Durga adalah ibu yang bertubuh Dewi”, melainkan:

“Sang Dewi mengambil perwujudan sebagai Durga,”
atau
“Mahādevī termanifestasi dalam tubuh atau wujud Durga.”

Ini menegaskan bahwa Durga merupakan wujud fungsional Mahādevī, bukan kekuatan yang terpisah dari-Nya.


10. Apakah Sang Hyang Catur Dewi berwujud empat arca?

Tidak terdapat keharusan bahwa Sang Hyang Catur Dewi dalam mantra ini harus digambarkan sebagai empat arca perempuan.

Alasannya:

  1. Mantra tidak menyebut empat nama Dewi.
  2. Sumber pengajaran menerangkannya sebagai Catur Sakti.
  3. Kata Mahāśakti menunjuk pada satu kekuatan agung.
  4. Bait akhirnya menyatukan semuanya dalam satu perwujudan: Durga masarira Dewi.

Ketika diwujudkan secara ikonografis, yang lebih umum ditemukan adalah arca Durgā Mahiṣāsuramardinī. Bentuknya dapat mempunyai dua sampai sepuluh tangan; arca Durga Kutri, misalnya, digambarkan bertangan delapan, berdiri di atas Mahiṣa, memakai mahkota dan prabhāmaṇḍala, serta membawa berbagai senjata sebagai lambang terkumpulnya kekuatan para Dewata. Bentuk dan atributnya berbeda-beda menurut tempat dan periode.

Jadi, Sang Hyang Catur Dewi lebih merupakan konsep teologis empat kemahakuasaan dalam satu Mahādevī, bukan nama bagi satu kelompok ikonografis yang wajib terdiri atas empat arca.


11. Perbedaan dari Catur Bhagini dan Catur Danu

Perlu dibedakan tiga kelompok pengertian:

Istilah/konteksPengertian
Catur Dewi dalam mantra Pura DalemSatu Mahādevī sebagai Catur Mahāśakti, Śakti Śiwa, yang masarira sebagai Durga
Dewi Catur BhaginiKelompok Dewi tertentu dalam konteks sastra lain, yang dapat disebut Uma, Gangga, Gauri, dan Durga
Catur Dewi dalam Catur DanuPara Dewi yang berhubungan dengan empat danau dan fungsi pemeliharaan air Bali

Ketiganya menggunakan pola “empat”, tetapi sumber, fungsi, serta lingkungan ritualnya berbeda. Karena itu, daftar Dewi Catur Bhagini tidak dapat langsung ditempelkan kepada mantra Pura Dalem tanpa penjelasan tambahan.


Kesimpulan utama

Dalam mantra Pura Dalem:

Sang Hyang Catur Dewi adalah Sang Mahādevī atau Giri Putri, Śakti Sang Hyang Śiwa Jagatpati, yang memiliki empat kemahakuasaan—Wibhu Sakti, Prabhu Sakti, Jñāna Sakti, dan Kriyā Sakti—menaungi seluruh Catur Āśrama, serta mengambil perwujudan sebagai Bhatari Durga.

Rumus teologisnya dapat diringkas:

Satu Mahādevī
empat kemahakuasaan
menaungi empat tahap kehidupan
merupakan Śakti Śiwa
masarira sebagai Durga.

Dengan demikian, Sang Hyang Catur Dewi di Pura Dalem bukan semata-mata “empat Dewi”, bukan pula Dewi jahat yang hanya berhubungan dengan setra. Beliau adalah Mahāśakti pelindung dunia, pengendali pralina, pembebas penderitaan, pembersih kekotoran, dan penjaga seluruh perjalanan kehidupan manusia.


Posted

in

by

Tags: