Upacara Danu Kerthi di Danau Beratan. Foto ini memperlihatkan konteks pemuliaan danau dan sumber air; bukan gambaran ikonografis baku Sang Hyang Catur Dewi.
Dalam tradisi Hindu Bali, Sang Hyang Catur Dewi bukan selalu nama bagi satu tokoh Dewi tertentu. Istilah ini lebih tepat dipahami sebagai sebutan kolektif bagi empat perwujudan Śakti, yaitu kekuatan ilahi feminin dari Sang Hyang Śiwa atau Rudra.
Namun, nama keempat Dewi tersebut tidak selalu sama dalam setiap lontar atau konteks ritual. Sekurang-kurangnya terdapat tiga penggunaan penting:
| Konteks sumber | Empat Dewi/perwujudan |
|---|---|
| Slokantara—Catur Bhagini | Uma, Gangga, Gauri, Durga |
| Tradisi Catur Danu Bali | Uma, Gangga, Laksmi, Gori |
| Beberapa mantra ritual berdasarkan arah | Uma, Saraswati, Durga, Sri |
Karena itu, ketika seseorang menyebut “Sang Hyang Catur Dewi”, kita perlu mengetahui apakah istilah tersebut berasal dari pembahasan Śiwa-Rudra, Pura Dalem, danau, pertanian, atau mantra upacara tertentu.
1. Sang Hyang Catur Dewi dalam Slokantara
Salah satu penjelasan yang paling langsung terdapat dalam Slokantara. Di sana disebutkan bahwa Sang Hyang Rudra mempunyai empat Dewi:
- Dewi Uma
- Dewi Gangga
- Dewi Gauri
- Dewi Durga
Keempatnya disebut Dewi Catur Bhagini. Kata catur berarti empat, sedangkan bhagini berarti saudari atau perempuan yang memiliki hubungan kekeluargaan. Dalam penafsiran teologis, mereka dapat dipahami sebagai empat nama atau aspek kekuatan feminin yang berhubungan dengan Sang Hyang Rudra. (Parisada Hindu Dharma Indonesia)
Dewi Uma
Dewi Uma merupakan aspek Śakti yang berkaitan dengan kehidupan, pemeliharaan, kesuburan, dan sifat keibuan. Dalam ajaran Tutur Gong Besi, ketika kekuatan Ketuhanan bersthana atau bekerja di wilayah persawahan, Beliau disebut Bhatara Uma. Dengan demikian, Uma berhubungan erat dengan tanah yang memberi kehidupan, pertanian, pangan, dan pemeliharaan makhluk hidup. (Parisada Hindu Dharma Indonesia)
Uma bukan dewi yang sepenuhnya berbeda dari Pārwatī atau Giriputri. Dalam berbagai lapisan sastra Śaiva, Uma, Pārwatī, Giriputri, Gauri, dan Durga merupakan nama-nama Śakti yang menonjolkan keadaan, fungsi, atau sifat yang berbeda.
Dewi Gangga
Dewi Gangga adalah manifestasi Śakti dalam bentuk air suci yang mengalir, membersihkan, menyucikan, dan menghidupi. Dalam Tutur Gong Besi, kekuatan ilahi yang berada di jurang, sungai, dan aliran air disebut Bhatari Gangga. (Parisada Hindu Dharma Indonesia)
Gangga bukan semata-mata nama sebuah sungai di India. Dalam pemahaman ritual Bali, nama Gangga juga dapat menunjuk pada hakikat kesucian air. Karena itu, air yang diproses secara ritual menjadi tirtha tidak hanya dipandang sebagai benda fisik, tetapi sebagai media hadirnya daya penyucian ilahi.
Dewi Gauri atau Gori
Gauri—dalam sejumlah teks Bali ditulis atau diucapkan Gori—merupakan salah satu nama Śakti Śiwa. Aspek ini umumnya berhubungan dengan sifat yang terang, suci, menenteramkan, dan membawa keseimbangan.
Dalam tradisi Catur Danu, Bhatari Gori dikaitkan dengan Danau Tamblingan. Ini memperlihatkan bahwa Gauri atau Gori tidak hanya dipahami secara abstrak, tetapi juga dihubungkan dengan tempat suci dan sumber air tertentu di Bali. (Scribd)
Dewi Durga
Dewi Durga merupakan aspek Śakti yang berkuasa menghadapi kekacauan, bahaya, penyakit, kekuatan destruktif, dan segala sesuatu yang mengganggu keseimbangan dunia. Bentuknya dapat bersifat keras atau menakutkan, tetapi maksud keberadaan Beliau bukanlah kejahatan.
Dalam kajian mengenai pemujaan Durga di Bali, Beliau digambarkan sebagai kekuatan yang dapat menghancurkan keburukan sekaligus melindungi kehidupan, mengatasi rintangan, memulihkan keteraturan kosmis, menghapus kesalahan, dan memberikan keselamatan. Beliau juga dipuji sebagai penyangga dunia dan pemberi daya kehidupan.
Oleh karena itu, menyamakan Dewi Durga dengan “dewi jahat” merupakan penyederhanaan yang keliru. Wujud keras Durga adalah daya perlindungan dan transformasi: keras terhadap kekacauan, tetapi melindungi mereka yang berada dalam jalan dharma.
2. Sang Hyang Catur Dewi dalam Tradisi Catur Danu
Dalam konteks Bali yang berkaitan dengan danau dan sumber air, terdapat kelompok yang disebut Catur Dewi Prasanak Giriputri. Mereka dipandang sebagai empat Dewi yang berhubungan dengan Giriputri atau Pārwatī, Śakti Sang Hyang Śiwa.
Susunannya adalah:
| Danau | Dewi yang bersthana |
|---|---|
| Danau Batur | Bhatari Uma |
| Danau Buyan—dalam teks tertentu disebut Bulyan | Bhatari Gangga |
| Danau Beratan | Bhatari Laksmi |
| Danau Tamblingan | Bhatari Gori |
Susunan ini tercatat dalam pembahasan mengenai Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul dan sistem kesucian empat danau Bali. Keempat Dewi tersebut disebut melakukan yoga untuk memberkati air danau sehingga air itu menghidupi sungai, mata air, rembesan, persawahan, tumbuhan, hewan, dan manusia. (Scribd)
Mengapa keempat danau disebut bersthana Dewi?
Dalam pandangan tradisional Bali, danau tidak hanya merupakan tempat penampungan air. Danau adalah rahim ekologis Pulau Bali. Air dari pegunungan dan danau mengalir ke sungai, mata air, subak, sawah, tegalan, desa, dan wilayah pesisir.
Karena air:
- melahirkan kehidupan,
- memelihara tanaman,
- menyusui wilayah di bawahnya,
- membersihkan dan menyucikan,
- serta menjaga keberlangsungan masyarakat,
maka danau dipersonifikasikan sebagai Ibu atau Dewi. Catur Dewi dalam konteks ini menggambarkan empat daya keibuan yang menjaga keseimbangan air Bali. Kajian mengenai Catur Danu menyebut cara pandang ini sebagai penempatan danau dalam kedudukan pradhana—unsur feminin, material, produktif, dan pemberi kehidupan. (Puri Kauhan Ubud)
Mengapa dalam Catur Danu ada Dewi Laksmi, bukan Durga?
Karena konteksnya berbeda.
Dalam Slokantara, susunan Uma–Gangga–Gauri–Durga berbicara mengenai empat Dewi yang berhubungan dengan Sang Hyang Rudra. Dalam tradisi Catur Danu, penekanannya adalah pemeliharaan air, kesuburan, kemakmuran, dan keberlangsungan kehidupan, sehingga Laksmi tampil sebagai Dewi yang bersthana di Danau Beratan.
Jadi, perbedaan nama tersebut bukan harus dianggap sebagai pertentangan. Tradisi Hindu Bali sering menggunakan nama Dewata sesuai dengan:
- tempat Beliau bersthana,
- fungsi yang sedang dijalankan,
- sifat atau daya yang sedang dimohon,
- serta konteks yadnya yang dilaksanakan.
Prinsip ini juga terlihat dalam Tutur Gong Besi: hakikat Ketuhanan yang sama disebut Durga ketika berkaitan dengan setra, Giriputri ketika berhubungan dengan gunung, Gangga ketika berada pada sungai, Uma ketika hadir di persawahan, dan Sri ketika berhubungan dengan lumbung serta kemakmuran pangan. (Parisada Hindu Dharma Indonesia)
3. “Catur Dewi” sebagai Mahāśakti yang Berwujud Empat
Dalam sebuah stawa kepada Dewi Durga yang dicatat dalam kajian ritual Bali, Beliau dipuji sebagai Putri Gunung, Uma, Gangga, Saraswati, Gayatri, Śakti Wisnu, serta kekuatan ilahi yang bersifat empat atau catur divya mahāśakti. Pada bagian yang sama, seluruh daya itu dipusatkan kembali dalam wujud Dewi Durga.
Hal ini memberikan pemahaman yang sangat penting:
Sang Hyang Catur Dewi dapat berarti empat perwujudan, tetapi sumber keempat perwujudan itu tetap satu Mahāśakti.
Dengan kata lain, Beliau dapat dibicarakan sebagai “empat Dewi”, tetapi juga dihormati sebagai satu Sang Hyang Śakti yang berwujud empat. Bilangan empat menunjukkan pembagian fungsi atau pemancaran kekuatan, bukan pemisahan mutlak antara empat Tuhan yang tidak berhubungan.
Pemahaman seperti ini sejalan dengan karakter teologi Hindu Bali: satu hakikat ilahi dapat mempunyai banyak nama, wujud, tempat kedudukan, dan fungsi.
4. Susunan Catur Dewi Berdasarkan Arah
Dalam salah satu mantra yang menyertai sarana ritual pulagembal, terdapat pula susunan empat Dewi berdasarkan arah mata angin dan warna:
| Arah | Warna | Dewi |
|---|---|---|
| Timur | Putih | Dewi Uma |
| Selatan | Merah | Dewi Saraswati |
| Barat | Kuning | Dewi Durga |
| Utara | Hitam | Dewi Sri |
Susunan ini merupakan pengelompokan ritual berdasarkan ruang kosmis. Ia tidak harus menggantikan Catur Bhagini maupun Catur Danu. Justru variasi tersebut memperlihatkan bahwa istilah “Catur Dewi” dapat disusun sesuai tujuan ritual yang sedang dilaksanakan.
5. Makna Filosofis Sang Hyang Catur Dewi
Secara filosofis, Catur Dewi dapat dibaca sebagai kesatuan empat daya dasar kehidupan.
Daya penciptaan dan kesuburan
Dilambangkan terutama oleh Uma, Sri, atau Laksmi. Daya ini membuat tanah subur, tumbuhan menghasilkan pangan, keluarga berkembang, dan kehidupan dapat dipelihara.
Daya air dan penyucian
Dilambangkan oleh Gangga dan para Dewi Danu. Air tidak hanya menghilangkan kotoran secara fisik, tetapi juga menjadi sarana penyucian rohani melalui tirtha.
Daya pengetahuan dan keteraturan
Dalam susunan tertentu dilambangkan oleh Saraswati atau Gauri. Pengetahuan memberi arah sehingga kekuatan dan kemakmuran tidak digunakan secara keliru.
Daya perlindungan dan transformasi
Dilambangkan oleh Durga. Segala sesuatu yang telah kehilangan keseimbangan harus dikendalikan, dilebur, atau dikembalikan kepada keteraturan. Karena itulah daya Durga dapat tampak keras.
Keempat daya tersebut bukan saling bertentangan. Kelahiran, pemeliharaan, penyucian, dan peleburan merupakan satu rangkaian kehidupan.
6. Hubungan dengan Pura Dalem dan Setra
Dalam tradisi Bali, Dewi Durga mempunyai hubungan kuat dengan Pura Dalem dan setra. Namun, hal itu tidak berarti Pura Dalem adalah tempat “kejahatan”. Pura Dalem berada dalam wilayah teologi transformasi:
- tubuh kembali kepada unsur-unsur alam,
- kekotoran diolah menuju penyucian,
- kekuatan yang belum teratur ditertibkan,
- kematian diproses menuju perjalanan rohani berikutnya.
Karena itu, Durga bersthana sebagai penguasa daya pelebur dan penjaga peralihan. Dalam stawa Bali, Beliau bukan hanya dimohon untuk menjauhkan gangguan, tetapi juga untuk memberikan perlindungan, membebaskan kesalahan, menghancurkan keburukan, dan memulihkan kehidupan.
Dalam pengertian ini, aspek Durga melengkapi aspek Uma. Uma memelihara kehidupan; Durga menjaga proses perubahan dan pemurnian kehidupan. Keduanya merupakan dimensi berbeda dari Śakti yang sama.
7. Apakah Ada Bentuk atau Ikonografi Baku?
Tidak ditemukan satu bentuk ikonografis tunggal yang berlaku bagi semua penggunaan nama Sang Hyang Catur Dewi. Hal ini dapat disimpulkan dari perbedaan susunan dalam Slokantara, Catur Danu, stawa Durga, dan mantra berdasarkan arah. Setiap aspek dapat digambarkan atau dipuja menurut karakter dan konteksnya masing-masing. (Parisada Hindu Dharma Indonesia)
Dalam praktik di Bali, kehadiran Beliau tidak selalu diwujudkan sebagai empat arca perempuan. Beliau dapat dipuja melalui:
- pelinggih atau pura yang menjadi sthana,
- pratima atau arca tertentu,
- danau, sungai, mata air, gunung, sawah, dan setra,
- aksara suci, mantra, warna, serta arah,
- maupun sarana upakara yang menjadi simbol kehadiran Śakti.
Karena itu, ketika tidak ditemukan empat arca di sebuah pura, bukan berarti konsep Catur Dewi tidak ada. Dalam teologi Bali, alam, ruang suci, mantra, dan fungsi ritual juga merupakan bahasa simbolik untuk menghadirkan Dewata.
Kesimpulan
Pengertian yang paling langsung berdasarkan Slokantara adalah:
Sang Hyang Catur Dewi atau Dewi Catur Bhagini terdiri atas Dewi Uma, Dewi Gangga, Dewi Gauri, dan Dewi Durga—empat aspek Śakti yang berhubungan dengan Sang Hyang Rudra.(Parisada Hindu Dharma Indonesia)
Namun, dalam tradisi Catur Danu Bali, Sang Hyang Catur Dewi terdiri atas:
Bhatari Uma di Danau Batur, Bhatari Gangga di Danau Buyan, Bhatari Laksmi di Danau Beratan, dan Bhatari Gori di Danau Tamblingan. (Scribd)
Jadi, Sang Hyang Catur Dewi sebaiknya dipahami sebagai empat perwujudan kekuatan ilahi feminin yang pada hakikatnya bersumber dari satu Mahāśakti. Nama dan susunannya dapat berubah sesuai sastra, tempat suci, fungsi ritual, dan ajaran yang sedang digunakan. Beliau mewakili daya yang melahirkan, menyucikan, memelihara, melindungi, serta mentransformasikan kehidupan.
