Kitab Suci Weda:

Pengertian, Bagian-Bagian, dan Subbagiannya

1. Pengertian Weda

Weda atau Veda berasal dari akar kata Sanskerta vid, yang berarti “mengetahui”, “pengetahuan”, atau “kebijaksanaan”. Karena itu, Weda dapat diartikan sebagai pengetahuan suci yang menjadi dasar ajaran Hindu.

Dalam keyakinan Hindu, Weda bukan ciptaan manusia atau apauruṣeya. Kebenaran Weda diyakini diterima atau “didengar” oleh para ṛṣi melalui kesadaran rohani, kemudian diwariskan secara lisan dari guru kepada murid. Oleh karena itu, Weda disebut Śruti, yaitu “yang didengar”. Weda juga bukan satu kitab tunggal, melainkan suatu kumpulan besar teks suci yang berkembang dan dipelihara melalui berbagai perguruan atau śākhā. (Vedic Heritage)

Istilah “Weda” dapat dipahami dalam dua pengertian:

A. Weda dalam arti sempit

Weda dalam arti sempit adalah Śruti, yang terdiri atas:

  1. Ṛgveda atau Reg Weda
  2. Yajurveda atau Yajur Weda
  3. Sāmaveda atau Sama Weda
  4. Atharvaveda atau Atharwa Weda

Keempatnya disebut Catur Weda atau Catur Weda Saṁhitā.

Setiap Weda secara konseptual mempunyai empat lapisan:

  1. Saṁhitā
  2. Brāhmaṇa
  3. Āraṇyaka
  4. Upaniṣad

B. Weda dalam arti luas

Dalam penggunaan yang lebih luas, istilah “pustaka Weda” kadang mencakup pula:

  • Vedāṅga;
  • Upaveda;
  • Itihāsa;
  • Purāṇa;
  • Dharmaśāstra;
  • Darśana;
  • Āgama dan Tantra;
  • berbagai komentar, ringkasan, serta sastra keagamaan daerah.

Namun, pustaka-pustaka tersebut tidak seluruhnya termasuk Śruti. Sebagian besar berada dalam kelompok Smṛti, yaitu ajaran suci yang “diingat”, disusun, dijelaskan, dan diwariskan oleh para mahārṣi atau ācārya berdasarkan prinsip-prinsip Weda. (Penelope)


2. Struktur Besar Pustaka Suci Hindu

Struktur dasarnya dapat digambarkan sebagai berikut:

PUSTAKA SUCI HINDU
│
├── I. ŚRUTI — Weda dalam arti utama
│   │
│   ├── 1. Ṛgveda
│   ├── 2. Yajurveda
│   │      ├── Śukla Yajurveda
│   │      └── Kṛṣṇa Yajurveda
│   ├── 3. Sāmaveda
│   └── 4. Atharvaveda
│
│   Setiap Weda memiliki empat lapisan:
│   ├── Saṁhitā
│   ├── Brāhmaṇa
│   ├── Āraṇyaka
│   └── Upaniṣad
│
├── II. ILMU PENUNJANG WEDA
│   ├── Vedāṅga
│   │      ├── Śikṣā
│   │      ├── Vyākaraṇa
│   │      ├── Nirukta
│   │      ├── Chandas
│   │      ├── Kalpa
│   │      └── Jyotiṣa
│   │
│   └── Upaveda
│          ├── Āyurveda
│          ├── Dhanurveda
│          ├── Gāndharvaveda
│          └── Arthaśāstra
│
└── III. SMṚTI DAN SASTRA TRADISI
    ├── Itihāsa
    │      ├── Rāmāyaṇa
    │      └── Mahābhārata
    ├── Purāṇa
    ├── Dharmaśāstra
    ├── Ṣaḍdarśana
    ├── Āgama dan Tantra
    ├── Sūtra, Bhāṣya, dan Nibandha
    └── Sastra keagamaan daerah

Perlu dipahami bahwa pembagian tersebut merupakan peta besar. Dalam sejarahnya terdapat banyak śākhā atau cabang perguruan Weda. Tidak seluruh naskah dari setiap cabang masih bertahan sampai sekarang. Karena itu, “daftar lengkap” berarti lengkap pada tingkat struktur kanonik utama dan naskah-naskah yang masih dikenal, bukan seluruh teks yang pernah ada dalam sejarah.


3. Empat Lapisan dalam Setiap Weda

Keempat lapisan ini bukan empat Weda yang berbeda, melainkan empat bentuk atau tingkat pembahasan dalam tradisi masing-masing Weda.

LapisanPengertianIsi utama
SaṁhitāKumpulan mantraPujaan, doa, mantra ritual, nyanyian suci dan formula persembahan
BrāhmaṇaPenjelasan ritualTata pelaksanaan yajña, fungsi mantra, simbolisme upacara dan kewajiban pendeta
ĀraṇyakaAjaran kontemplatifPemaknaan batin terhadap ritual, meditasi dan peralihan dari upacara menuju pengetahuan rohani
UpaniṣadAjaran filsafat tertinggiBrahman, Ātman, kehidupan, kematian, karma, kelahiran kembali dan pembebasan

Secara pedagogis, lapisan tersebut kadang dihubungkan dengan:

  • Karma Kāṇḍa: Saṁhitā dan Brāhmaṇa, terutama mengenai yajña dan perbuatan;
  • Upāsanā Kāṇḍa: Āraṇyaka, mengenai pemujaan dan perenungan;
  • Jñāna Kāṇḍa: Upaniṣad, mengenai pengetahuan tertinggi.

Pembagian itu tidak selalu bersifat mutlak, karena beberapa Āraṇyaka mengandung bagian Upaniṣad, sedangkan sejumlah Upaniṣad berada di bagian akhir Saṁhitā atau Brāhmaṇa. (Vedic Heritage)


4. Catur Weda dan Subbagiannya

A. Ṛgveda atau Reg Weda

Pengertian

Ṛgveda merupakan kumpulan mantra berbentuk ṛc, yaitu bait-bait pujian kepada berbagai manifestasi kekuatan ketuhanan. Ṛgveda adalah sumber utama banyak mantra yang kemudian dinyanyikan kembali dalam Sāmaveda atau digunakan dalam ritual Yajurveda.

1. Ṛgveda Saṁhitā

Resensi yang paling lengkap dan paling luas dipelihara adalah Śākala Saṁhitā.

Strukturnya adalah:

Ṛgveda Saṁhitā
└── Maṇḍala
    └── Anuvāka
        └── Sūkta
            └── Ṛc atau mantra

Ṛgveda Śākala terdiri atas:

  • 10 Maṇḍala;
  • 85 Anuvāka;
  • 1.028 Sūkta;
  • sekitar 10.552 mantra atau bait.

Sepuluh Maṇḍala tersebut secara umum meliputi:

  1. Maṇḍala I – kumpulan pujian kepada berbagai devatā;
  2. Maṇḍala II – berhubungan dengan keluarga ṛṣi Gṛtsamada;
  3. Maṇḍala III – keluarga Viśvāmitra;
  4. Maṇḍala IV – keluarga Vāmadeva;
  5. Maṇḍala V – keluarga Atri;
  6. Maṇḍala VI – keluarga Bharadvāja;
  7. Maṇḍala VII – keluarga Vasiṣṭha;
  8. Maṇḍala VIII – terutama keluarga Kaṇva;
  9. Maṇḍala IX – pujian kepada Soma Pavamāna;
  10. Maṇḍala X – mantra kosmologi, penciptaan, perkawinan, kematian, sosial dan filsafat.

Di dalam Maṇḍala X terdapat beberapa himne yang sangat terkenal, seperti:

  • Nāsadīya Sūkta, mengenai misteri penciptaan;
  • Puruṣa Sūkta, mengenai Puruṣa kosmis;
  • Hiraṇyagarbha Sūkta, mengenai asal mula alam semesta;
  • Vivāha Sūkta, berkaitan dengan perkawinan;
  • mantra-mantra mengenai kematian dan perjalanan leluhur.

Struktur dan jumlah tersebut merujuk pada resensi Śākala yang umum digunakan; cara menghitung beberapa himne tambahan dapat berbeda di antara tradisi. (Vedic Heritage)

2. Brāhmaṇa Ṛgveda

Brāhmaṇa utama yang berhubungan dengan Ṛgveda adalah:

  1. Aitareya Brāhmaṇa
  2. Kauṣītaki Brāhmaṇa, juga disebut Śāṅkhāyana Brāhmaṇa

3. Āraṇyaka Ṛgveda

  1. Aitareya Āraṇyaka
  2. Kauṣītaki Āraṇyaka atau Śāṅkhāyana Āraṇyaka

4. Upaniṣad Ṛgveda

Upaniṣad utama yang berhubungan dengan Ṛgveda adalah:

  1. Aitareya Upaniṣad
  2. Kauṣītaki Upaniṣad

Aitareya Upaniṣad antara lain membahas penciptaan, kesadaran dan hakikat manusia, sedangkan Kauṣītaki Upaniṣad banyak membahas prāṇa, kesadaran dan perjalanan jiwa.


B. Yajurveda atau Yajur Weda

Pengertian

Yajurveda berisi mantra dan formula yang dipergunakan dalam pelaksanaan yajña. Istilah yajus menunjuk pada ucapan atau formula persembahan yang digunakan oleh pendeta pelaksana ritual.

Yajurveda memiliki dua kelompok besar:

Yajurveda
├── Śukla Yajurveda — Yajurveda Putih
└── Kṛṣṇa Yajurveda — Yajurveda Hitam

Perbedaannya terutama terletak pada susunan teks:

  • Śukla Yajurveda memisahkan kumpulan mantra dari penjelasan ritualnya;
  • Kṛṣṇa Yajurveda mencampurkan mantra dengan uraian ritual dalam teks Saṁhitā.

(Vedic Heritage)

B.1. Śukla Yajurveda

Śukla Yajurveda disebut pula Vājasaneyi Saṁhitā.

Saṁhitā atau resensi utama

  1. Mādhyandina Saṁhitā
  2. Kāṇva Saṁhitā

Brāhmaṇa

  1. Śatapatha Brāhmaṇa – resensi Mādhyandina
  2. Śatapatha Brāhmaṇa – resensi Kāṇva

Śatapatha Brāhmaṇa merupakan salah satu Brāhmaṇa terbesar dan paling penting. Isinya mencakup tata ritual, pembangunan altar, simbolisme yajña, kisah-kisah penciptaan dan pembahasan filosofis.

Āraṇyaka

  1. Bṛhadāraṇyaka

Bṛhadāraṇyaka merupakan bagian akhir Śatapatha Brāhmaṇa. Sebagian besar isinya kemudian dikenal sebagai Bṛhadāraṇyaka Upaniṣad.

Upaniṣad utama Śukla Yajurveda

  1. Īśa atau Īśāvāsya Upaniṣad
  2. Bṛhadāraṇyaka Upaniṣad

Īśa Upaniṣad terdapat pada bagian akhir Vājasaneyi Saṁhitā. Bṛhadāraṇyaka Upaniṣad membahas Ātman, Brahman, karma, kelahiran kembali dan pembebasan.

B.2. Kṛṣṇa Yajurveda

Saṁhitā atau resensi utama

  1. Taittirīya Saṁhitā
  2. Maitrāyaṇī atau Maitrāyaṇīya Saṁhitā
  3. Kaṭha Saṁhitā
  4. Kapiṣṭhala-Kaṭha Saṁhitā

Brāhmaṇa

  1. Taittirīya Brāhmaṇa
  2. Maitrāyaṇī Brāhmaṇa
  3. Kaṭha Brāhmaṇa
  4. Kapiṣṭhala-Kaṭha Brāhmaṇa

Āraṇyaka

  1. Taittirīya Āraṇyaka
  2. Maitrāyaṇīya Āraṇyaka

Upaniṣad utama Kṛṣṇa Yajurveda

  1. Taittirīya Upaniṣad
  2. Kaṭha Upaniṣad
  3. Śvetāśvatara Upaniṣad
  4. Maitrī atau Maitrāyaṇīya Upaniṣad

Daftar Brāhmaṇa dan Āraṇyaka tersebut mencerminkan naskah utama yang masih dikenal atau tersedia dalam tradisi masing-masing cabang. (Vedic Heritage)


C. Sāmaveda atau Sama Weda

Pengertian

Sāmaveda merupakan Weda nyanyian suci. Sebagian besar baitnya berasal dari Ṛgveda, tetapi disusun kembali untuk dinyanyikan dengan pola melodi khusus dalam pelaksanaan yajña.

Dengan demikian, yang membedakan Sāmaveda bukan semata-mata teks baitnya, melainkan cara penyusunan, notasi dan pelantunannya.

1. Resensi utama Sāmaveda

Tiga resensi yang masih dikenal adalah:

  1. Kauthuma
  2. Rāṇāyanīya
  3. Jaiminīya, juga disebut Talavakāra

2. Struktur Kauthuma Saṁhitā

Kauthuma Saṁhitā dibagi menjadi:

Sāmaveda Kauthuma Saṁhitā
├── Pūrvārcika
│   ├── Āgneya
│   ├── Aindra
│   ├── Pavamāna
│   ├── Āraṇya
│   └── Mahānāmnī
└── Uttarārcika

Keterangan:

  • Pūrvārcika adalah kumpulan awal yang terutama disusun menurut devatā;
  • Uttarārcika berisi susunan nyanyian untuk ritual tertentu;
  • Āgneya berkaitan terutama dengan Agni;
  • Aindra dengan Indra;
  • Pavamāna dengan Soma yang disucikan;
  • Āraṇya dengan nyanyian yang berkaitan dengan praktik khusus;
  • Mahānāmnī merupakan kumpulan mantra atau nyanyian tambahan tertentu.

Dalam resensi Kauthuma terdapat sekitar 1.875 kemunculan bait, dengan sebagian besar materinya berasal dari Ṛgveda. (Vedic Heritage)

3. Brāhmaṇa Sāmaveda

Tradisi Kauthuma dan Rāṇāyanīya

  1. Tāṇḍya Mahābrāhmaṇa atau Pañcaviṁśa Brāhmaṇa
  2. Ṣaḍviṁśa Brāhmaṇa
  3. Sāmavidhāna Brāhmaṇa
  4. Ārṣeya Brāhmaṇa
  5. Devatādhyāya Brāhmaṇa
  6. Chāndogyopaniṣad Brāhmaṇa
  7. Saṁhitopaniṣad Brāhmaṇa
  8. Vaṁśa Brāhmaṇa

Tradisi Jaiminīya

  1. Jaiminīya Brāhmaṇa
  2. Jaiminīya Ārṣeya Brāhmaṇa
  3. Jaiminīyopaniṣad Brāhmaṇa

4. Āraṇyaka Sāmaveda

  1. Talavakāra atau Jaiminīya Upaniṣad Āraṇyaka
  2. Chāndogya Āraṇyaka

5. Upaniṣad utama Sāmaveda

  1. Kena Upaniṣad, juga dikenal sebagai Talavakāra Upaniṣad
  2. Chāndogya Upaniṣad

Kena Upaniṣad membahas kekuatan yang memungkinkan pikiran berpikir dan indra bekerja. Chāndogya Upaniṣad membahas meditasi, suara suci Oṁ, hakikat keberadaan dan hubungan Ātman dengan Brahman. (Vedic Heritage)


D. Atharvaveda atau Atharwa Weda

Pengertian

Atharvaveda berisi cakupan kehidupan yang sangat luas, antara lain:

  • doa untuk kesehatan dan kesembuhan;
  • perlindungan;
  • kehidupan keluarga;
  • keharmonisan sosial;
  • penobatan dan kewajiban raja;
  • pertanian dan kesejahteraan;
  • kematian dan leluhur;
  • kosmologi;
  • meditasi dan pengetahuan rohani.

Atharvaveda memperlihatkan bahwa ajaran Weda tidak hanya berhubungan dengan upacara besar, tetapi juga dengan kehidupan sehari-hari.

1. Resensi Atharvaveda

Dua resensi utama yang masih dikenal adalah:

  1. Śaunaka Saṁhitā
  2. Paippalāda Saṁhitā

Śaunaka Saṁhitā terdiri atas:

  • 20 Kāṇḍa;
  • sekitar 730 Sūkta;
  • sekitar 5.987 mantra.

Jumlah dapat berbeda sedikit menurut cara penyuntingan dan penghitungan naskah. (Vedic Heritage)

2. Brāhmaṇa Atharvaveda

  1. Gopatha Brāhmaṇa

3. Āraṇyaka Atharvaveda

Tidak terdapat Āraṇyaka Atharvaveda yang masih bertahan sebagai teks tersendiri dalam struktur naskah yang tersedia sekarang.

4. Upaniṣad utama Atharvaveda

  1. Praśna Upaniṣad
  2. Muṇḍaka Upaniṣad
  3. Māṇḍūkya Upaniṣad

Ketiganya membahas pertanyaan mendasar tentang asal kehidupan, prāṇa, meditasi, Brahman, Oṁ dan keadaan kesadaran manusia. (Vedic Heritage)


5. Upaniṣad

Pengertian Upaniṣad

Upaniṣad merupakan bagian penutup atau puncak pemikiran Weda. Karena berada pada bagian akhir Weda, ajarannya disebut pula Vedānta:

  • Veda berarti pengetahuan suci;
  • anta berarti akhir, tujuan atau kesimpulan.

Upaniṣad membahas antara lain:

  • Brahman sebagai realitas tertinggi;
  • Ātman sebagai hakikat diri;
  • hubungan Ātman dan Brahman;
  • karma;
  • saṁsāra atau kelahiran kembali;
  • mokṣa atau pembebasan;
  • prāṇa;
  • meditasi;
  • tingkat-tingkat kesadaran;
  • pengetahuan yang membebaskan.

Upaniṣad adalah bagian Śruti, bukan Smṛti. (Vedic Heritage)

Sepuluh Upaniṣad Utama

Sepuluh Upaniṣad yang paling sering dipandang sebagai Upaniṣad utama atau Mukhya Upaniṣad adalah:

  1. Īśa Upaniṣad
  2. Kena Upaniṣad
  3. Kaṭha Upaniṣad
  4. Praśna Upaniṣad
  5. Muṇḍaka Upaniṣad
  6. Māṇḍūkya Upaniṣad
  7. Taittirīya Upaniṣad
  8. Aitareya Upaniṣad
  9. Chāndogya Upaniṣad
  10. Bṛhadāraṇyaka Upaniṣad

Tiga Upaniṣad lain sering ditambahkan ke dalam kelompok penting sehingga menjadi tiga belas:

  1. Śvetāśvatara Upaniṣad
  2. Kauṣītaki Upaniṣad
  3. Maitrī atau Maitrāyaṇīya Upaniṣad

Daftar 108 Upaniṣad Menurut Muktikā

Jumlah seluruh teks yang memakai nama Upaniṣad tidak tunggal. Salah satu daftar tradisional yang paling terkenal adalah 108 Upaniṣad dalam Muktikā Upaniṣad. Daftar tersebut juga menghubungkan setiap Upaniṣad dengan salah satu dari empat Weda.

A. Sepuluh Upaniṣad Ṛgveda

  1. Aitareya
  2. Kauṣītaki
  3. Nādabindu
  4. Ātmabodha
  5. Nirvāṇa
  6. Mudgala
  7. Akṣamālikā
  8. Tripurā
  9. Saubhāgyalakṣmī
  10. Bahvṛca

B. Sembilan Belas Upaniṣad Śukla Yajurveda

  1. Īśa
  2. Bṛhadāraṇyaka
  3. Jābāla
  4. Haṁsa
  5. Paramahaṁsa
  6. Subāla
  7. Māntrika
  8. Nirālamba
  9. Triśikhi-Brāhmaṇa
  10. Maṇḍala-Brāhmaṇa
  11. Advayatāraka
  12. Paiṅgala
  13. Bhikṣuka
  14. Turīyātīta
  15. Adhyātma
  16. Tārasāra
  17. Yājñavalkya
  18. Śātyāyanī
  19. Muktikā

C. Tiga Puluh Dua Upaniṣad Kṛṣṇa Yajurveda

  1. Kaṭha
  2. Taittirīya
  3. Brahma
  4. Kaivalya
  5. Śvetāśvatara
  6. Garbha
  7. Nārāyaṇa
  8. Amṛtabindu
  9. Amṛtanāda
  10. Kālāgnirudra
  11. Kṣurikā
  12. Sarvasāra
  13. Śukarahasya
  14. Tejobindu
  15. Dhyānabindu
  16. Brahmavidyā
  17. Yogatattva
  18. Dakṣiṇāmūrti
  19. Skanda
  20. Śārīraka
  21. Yogaśikhā
  22. Ekākṣara
  23. Akṣi
  24. Avadhūta
  25. Kaṭharudra
  26. Rudrahṛdaya
  27. Yogakuṇḍalinī
  28. Pañcabrahma
  29. Prāṇāgnihotra
  30. Varāha
  31. Kalisantaraṇa
  32. Sarasvatīrahasya

D. Enam Belas Upaniṣad Sāmaveda

  1. Kena
  2. Chāndogya
  3. Āruṇeya
  4. Maitrāyaṇī
  5. Maitreyī
  6. Vajrasūcikā
  7. Yogacūḍāmaṇi
  8. Vāsudeva
  9. Mahat
  10. Saṁnyāsa
  11. Avyakta
  12. Kuṇḍikā
  13. Sāvitrī
  14. Rudrākṣa
  15. Darśana
  16. Jābāli

E. Tiga Puluh Satu Upaniṣad Atharvaveda

  1. Praśna
  2. Muṇḍaka
  3. Māṇḍūkya
  4. Atharvaśiras
  5. Atharvaśikhā
  6. Bṛhajjābāla
  7. Nṛsiṁhatāpanī
  8. Nāradaparivrājaka
  9. Sītā
  10. Śarabha
  11. Mahānārāyaṇa
  12. Rāmarahasya
  13. Rāmatāpanī
  14. Śāṇḍilya
  15. Paramahaṁsaparivrājaka
  16. Annapūrṇā
  17. Sūrya
  18. Ātma
  19. Pāśupata
  20. Parabrahma
  21. Tripurātāpanī
  22. Devī
  23. Bhāvanā
  24. Bhasma
  25. Gaṇapati
  26. Mahāvākya
  27. Gopālatāpanī
  28. Kṛṣṇa
  29. Hayagrīva
  30. Dattātreya
  31. Gāruḍa

Pembagian 10, 19, 32, 16 dan 31 tersebut menghasilkan jumlah 108. Perlu dicatat bahwa pengelompokan Muktikā merupakan pengelompokan tradisional. Kajian naskah atau tradisi perguruan tertentu dapat menghubungkan beberapa Upaniṣad dengan Weda yang berbeda. Selain itu, tidak semua dari 108 Upaniṣad berasal dari masa yang sama; sebagian merupakan teks yoga, saṁnyāsa, Śaiva, Vaiṣṇava atau Śākta dari masa yang lebih kemudian. (Sanskrit Documents)


6. Vedāṅga: Enam Ilmu Penunjang Weda

Kata Vedāṅga berarti “anggota tubuh Weda”. Vedāṅga diperlukan untuk menjaga agar mantra dipelajari, diucapkan, dipahami dan dilaksanakan dengan benar.

1. Śikṣā

Śikṣā adalah ilmu tentang:

  • bunyi bahasa;
  • pengucapan;
  • panjang-pendek suara;
  • tekanan atau aksen Weda;
  • artikulasi;
  • kesinambungan pelafalan.

Śikṣā sangat penting karena perubahan bunyi atau aksen dapat mengubah bentuk dan pemaknaan mantra.

2. Vyākaraṇa

Vyākaraṇa adalah ilmu tata bahasa Sanskerta.

Fungsinya:

  • menjelaskan pembentukan kata;
  • hubungan kata dalam kalimat;
  • perubahan bentuk kata;
  • menjaga ketepatan bahasa kitab suci;
  • membantu penafsiran mantra.

3. Nirukta

Nirukta adalah ilmu etimologi dan penjelasan istilah-istilah kuno dalam Weda.

Nirukta membantu menjelaskan:

  • asal-usul kata;
  • arti istilah yang jarang digunakan;
  • nama-nama devatā;
  • arti simbolik kata;
  • hubungan antara kata dan konteks mantra.

4. Chandas

Chandas adalah ilmu tentang metrum atau pola irama mantra.

Beberapa metrum Weda yang terkenal antara lain:

  • Gāyatrī;
  • Uṣṇih;
  • Anuṣṭubh;
  • Bṛhatī;
  • Paṅkti;
  • Triṣṭubh;
  • Jagatī.

Jumlah suku kata dan susunan setiap metrum berbeda. Gāyatrī, misalnya, pada bentuk dasarnya terdiri atas tiga bagian yang masing-masing berjumlah delapan suku kata.

5. Kalpa

Kalpa adalah ilmu mengenai aturan, prosedur dan pelaksanaan ritual serta kehidupan keagamaan.

Kalpa dibagi menjadi empat kelompok utama:

A. Śrauta Sūtra

Mengatur upacara Weda berskala besar yang didasarkan pada Śruti, seperti:

  • yajña yang menggunakan beberapa altar;
  • persembahan Soma;
  • ritual dengan beberapa kelompok pendeta;
  • upacara kerajaan dan ritual publik tertentu.

B. Gṛhya Sūtra

Mengatur ritual rumah tangga dan berbagai saṁskāra, antara lain:

  • upacara kehamilan;
  • kelahiran;
  • pemberian nama;
  • awal pendidikan;
  • perkawinan;
  • upacara kematian;
  • persembahan rumah tangga.

C. Dharma Sūtra

Membahas:

  • dharma perseorangan;
  • kewajiban sosial;
  • tahapan kehidupan;
  • aturan perilaku;
  • kewajiban keluarga;
  • penyelesaian pelanggaran;
  • prinsip-prinsip hukum dan etika.

D. Śulba Sūtra

Membahas ukuran dan geometri yang diperlukan untuk:

  • membangun altar;
  • mengukur tempat ritual;
  • membuat bentuk-bentuk altar;
  • menentukan perbandingan panjang dan luas;
  • mengatur arah dan tata ruang yajña.

6. Jyotiṣa

Jyotiṣa dalam konteks Vedāṅga terutama berfungsi menentukan waktu ritual berdasarkan pengamatan dan perhitungan astronomis, seperti:

  • peredaran Matahari dan Bulan;
  • tithi;
  • nakṣatra;
  • bulan;
  • musim;
  • kalender;
  • waktu pelaksanaan yajña.

Jyotiṣa Vedāṅga pada awalnya bukan hanya ramalan pribadi, melainkan ilmu waktu dan kalender yang memastikan ritual dilaksanakan pada saat yang ditentukan. Enam Vedāṅga dan empat pembagian utama Kalpa tersebut merupakan klasifikasi tradisional ilmu penunjang Weda. (Vedic Heritage)


7. Upaveda: Pengetahuan Terapan

Upaveda berarti pengetahuan tambahan atau pengetahuan terapan yang berhubungan dengan kehidupan manusia.

Empat Upaveda yang paling umum disebut adalah:

UpavedaBidang pengetahuan
ĀyurvedaKesehatan, pengobatan, keseimbangan tubuh dan kehidupan
DhanurvedaIlmu keprajuritan, pertahanan, strategi dan penggunaan senjata
GāndharvavedaMusik, nyanyian, tari, drama dan seni pertunjukan
ArthaśāstraPemerintahan, ekonomi, administrasi, politik dan kesejahteraan negara

Salah satu tradisi menghubungkan:

  • Āyurveda dengan Ṛgveda;
  • Dhanurveda dengan Yajurveda;
  • Gāndharvaveda dengan Sāmaveda;
  • Arthaśāstra dengan Atharvaveda.

Namun, hubungan tersebut tidak seragam dalam seluruh tradisi. Ada pula klasifikasi yang menghubungkan Āyurveda terutama dengan Atharvaveda atau memasukkan Sthāpatyaveda/Vāstuśāstra, yaitu ilmu arsitektur dan tata bangunan, sebagai salah satu Upaveda. Karena itu, bidang ilmunya relatif tetap dikenal, tetapi pemetaan setiap Upaveda kepada Catur Weda dapat berbeda. (Vedic Heritage)


8. Smṛti dan Bagian-Bagiannya

Pengertian Smṛti

Smṛti berarti “yang diingat”. Smṛti merupakan ajaran yang disusun, dijelaskan atau dikodifikasikan oleh para ṛṣi dan ācārya berdasarkan prinsip-prinsip Weda.

Perbedaan Śruti dan Smṛti bukan berarti Smṛti tidak suci. Perbedaannya terutama terletak pada asal, bentuk pewarisan dan kedudukan tekstualnya:

ŚrutiSmṛti
“Yang didengar”“Yang diingat”
Dipandang apauruṣeyaDisusun dan diwariskan oleh mahārṣi atau ācārya
Catur Weda dan lapisan-lapisannyaItihāsa, Purāṇa, Dharmaśāstra dan pustaka tradisi lainnya
Menjadi dasar otoritasMenjelaskan penerapan ajaran sesuai konteks kehidupan

A. Itihāsa

Itihāsa secara tradisional berarti kisah mengenai peristiwa yang pernah terjadi dan mengandung pelajaran dharma.

Itihāsa terdiri atas dua karya besar:

1. Rāmāyaṇa

Rāmāyaṇa menceritakan perjalanan Śrī Rāma, Dewi Sītā, Lakṣmaṇa, Hanumān dan perjuangan menegakkan dharma.

Bagian utama Rāmāyaṇa disebut Kāṇḍa:

  1. Bāla Kāṇḍa
  2. Ayodhyā Kāṇḍa
  3. Araṇya Kāṇḍa
  4. Kiṣkindhā Kāṇḍa
  5. Sundara Kāṇḍa
  6. Yuddha Kāṇḍa
  7. Uttara Kāṇḍa

2. Mahābhārata

Mahābhārata menceritakan keluarga Kuru, konflik Pāṇḍawa dan Kaurawa, serta perang Kurukṣetra.

Mahābhārata terdiri atas delapan belas Parva:

  1. Ādi Parva
  2. Sabhā Parva
  3. Vana Parva
  4. Virāṭa Parva
  5. Udyoga Parva
  6. Bhīṣma Parva
  7. Droṇa Parva
  8. Karṇa Parva
  9. Śalya Parva
  10. Sauptika Parva
  11. Strī Parva
  12. Śānti Parva
  13. Anuśāsana Parva
  14. Aśvamedhika Parva
  15. Āśramavāsika Parva
  16. Mausala Parva
  17. Mahāprasthānika Parva
  18. Svargārohaṇa Parva

Kedudukan Bhagavadgītā

Bhagavadgītā merupakan bagian dari Bhīṣma Parva dalam Mahābhārata. Oleh karena itu, berdasarkan klasifikasi tekstual, Bhagavadgītā termasuk Itihāsa dan Smṛti, bukan salah satu Saṁhitā dari Catur Weda.

Bhagavadgītā sangat dihormati dan setiap babnya disebut Yoga Śāstra serta Upaniṣad, tetapi sebutan tersebut menunjukkan kedalaman ajarannya, bukan berarti Bhagavadgītā menjadi bagian dari kumpulan Upaniṣad Śruti. (Wikipedia)


B. Purāṇa

Purāṇa berisi ajaran mengenai:

  • penciptaan dan peleburan alam;
  • silsilah para dewa dan ṛṣi;
  • masa pemerintahan para Manu;
  • dinasti raja-raja;
  • avatāra;
  • tīrtha atau tempat suci;
  • vrata;
  • pemujaan;
  • dharma;
  • kisah-kisah simbolis dan filosofis.

Delapan Belas Mahāpurāṇa

Salah satu daftar tradisional yang dikenal luas memuat:

  1. Brahma Purāṇa
  2. Padma Purāṇa
  3. Viṣṇu Purāṇa
  4. Śiva Purāṇa
  5. Bhāgavata Purāṇa
  6. Nāradīya Purāṇa
  7. Mārkaṇḍeya Purāṇa
  8. Agni Purāṇa
  9. Bhaviṣya Purāṇa
  10. Brahmavaivarta Purāṇa
  11. Liṅga Purāṇa
  12. Varāha Purāṇa
  13. Skanda Purāṇa
  14. Vāmana Purāṇa
  15. Kūrma Purāṇa
  16. Matsya Purāṇa
  17. Garuḍa Purāṇa
  18. Brahmāṇḍa Purāṇa

Daftar Purāṇa memiliki variasi antarteks dan tradisi. Beberapa daftar menempatkan Vāyu Purāṇa pada posisi yang dalam daftar lain ditempati Śiva Purāṇa. Selain Mahāpurāṇa, dikenal pula berbagai Upapurāṇa, tetapi daftar Upapurāṇa tidak sepenuhnya seragam. (Internet Sacred Text Archive)


C. Dharma Sūtra dan Dharmaśāstra

Pustaka Dharma membahas tata kehidupan berdasarkan dharma.

Dharma Sūtra utama yang masih bertahan

  1. Gautama Dharma Sūtra
  2. Baudhāyana Dharma Sūtra
  3. Āpastamba Dharma Sūtra
  4. Vasiṣṭha Dharma Sūtra

Dharmaśāstra atau Smṛti yang terkenal

  1. Manu Smṛti atau Mānava Dharmaśāstra
  2. Yājñavalkya Smṛti
  3. Nārada Smṛti
  4. Viṣṇu Smṛti
  5. Parāśara Smṛti
  6. Bṛhaspati Smṛti
  7. Kātyāyana Smṛti

Daftar karya Dharmaśāstra tidak tunggal karena terdapat berbagai teks, kutipan dan versi yang berkembang dalam periode berbeda. Di antara teks yang masih lengkap dan paling berpengaruh ialah Manu, Yājñavalkya dan Nārada Smṛti. (Oxford Reference)


D. Ṣaḍdarśana: Enam Sistem Filsafat

Enam sistem filsafat Hindu yang menerima kewibawaan Weda disebut Ṣaḍdarśana:

  1. Nyāya – logika, penalaran dan cara memperoleh pengetahuan yang benar;
  2. Vaiśeṣika – kategori keberadaan, sifat materi dan analisis realitas;
  3. Sāṁkhya – hubungan antara Puruṣa dan Prakṛti;
  4. Yoga – pengendalian pikiran, disiplin rohani dan pencapaian samādhi;
  5. Pūrva Mīmāṁsā – penafsiran mantra, ritual dan dharma dalam bagian awal Weda;
  6. Uttara Mīmāṁsā atau Vedānta – pembahasan Brahman, Ātman dan mokṣa berdasarkan Upaniṣad.

Masing-masing sistem memiliki Sūtra, Bhāṣya atau komentar, serta berbagai aliran penafsiran. (EBSCO)


E. Āgama dan Tantra

Āgama dan Tantra merupakan kelompok pustaka yang mengatur ajaran teologi, praktik yoga, mantra, pembangunan tempat suci, pembuatan arca dan tata pemujaan.

Kelompok utamanya meliputi:

1. Āgama Śaiva

Berhubungan dengan pemujaan Śiva dan berbagai manifestasi-Nya.

Isinya antara lain:

  • tattwa;
  • yoga;
  • mantra;
  • nyāsa;
  • pūjā;
  • pendirian pura atau kuil;
  • konsekrasi arca;
  • aturan bagi pendeta dan pemuja.

2. Āgama Vaiṣṇava

Dua tradisi utama yang dikenal adalah:

  • Pāñcarātra;
  • Vaikhānasa.

Keduanya membahas pemujaan Viṣṇu dan avatāra-Nya, tata pembangunan tempat suci, arca dan ritual harian.

3. Tantra Śākta

Berhubungan dengan pemujaan Śakti atau Devī.

Isinya dapat meliputi:

  • mantra;
  • yantra;
  • cakra;
  • kuṇḍalinī;
  • ritual Devī;
  • meditasi;
  • ajaran mengenai hubungan Śiva dan Śakti.

Kedudukan Āgama tidak seragam. Sebagian tradisi menempatkannya di luar Śruti Weda tetapi tetap menganggapnya sebagai wahyu yang memiliki otoritas tersendiri. Karena itu, Āgama tidak selalu tepat diperlakukan hanya sebagai “kitab Smṛti biasa”.


9. Pustaka Suci dalam Tradisi Hindu Bali

Dalam tradisi Hindu Bali, ajaran Weda diterima dan dijabarkan melalui berbagai bentuk pustaka, seperti:

  • mantra;
  • tattwa;
  • tutur;
  • wariga;
  • usada;
  • babad;
  • kakawin;
  • parwa;
  • kidung;
  • lontar upacara;
  • lontar etika;
  • lontar kependetaan.

Teks-teks seperti:

  • Wṛhaspati Tattwa;
  • Gaṇapati Tattwa;
  • Tattwa Jñāna;

merupakan bagian penting dari pengembangan ajaran Siwatattwa di Bali. Teks-teks tersebut menjabarkan ajaran ketuhanan, penciptaan, jiwa, māyā, yoga dan jalan pembebasan dengan bahasa serta kerangka yang dekat dengan kehidupan keagamaan Nusantara. (jayapanguspress.penerbit.org)

Namun, perlu dibedakan:

Wṛhaspati Tattwa, Gaṇapati Tattwa, Tattwa Jñāna dan lontar-lontar Bali bukan Maṇḍala atau Saṁhitā langsung dari Catur Weda.

Kedudukannya adalah pustaka penjelas, pengembangan atau pewarisan ajaran Hindu dalam tradisi lokal. Nilai kesuciannya tidak harus dipertentangkan dengan Weda, tetapi klasifikasi tekstualnya berbeda.


10. Ringkasan Kedudukan Setiap Kelompok Kitab

PustakaKelompokKeterangan
Ṛgveda SaṁhitāŚrutiSalah satu Catur Weda
Yajurveda SaṁhitāŚrutiSalah satu Catur Weda
Sāmaveda SaṁhitāŚrutiSalah satu Catur Weda
Atharvaveda SaṁhitāŚrutiSalah satu Catur Weda
BrāhmaṇaŚrutiPenjelasan ritual Weda
ĀraṇyakaŚrutiAjaran simbolis dan kontemplatif
UpaniṣadŚrutiPengetahuan mengenai Brahman dan Ātman
VedāṅgaPenunjang WedaEnam ilmu untuk mempelajari dan melaksanakan Weda
UpavedaPengetahuan terapanKesehatan, seni, pertahanan dan pemerintahan
RāmāyaṇaSmṛti–ItihāsaEpos ajaran dharma
MahābhārataSmṛti–ItihāsaEpos keluarga Kuru dan perang Kurukṣetra
BhagavadgītāSmṛti–ItihāsaBagian dari Mahābhārata
PurāṇaSmṛtiKisah penciptaan, avatāra, devatā dan dharma
DharmaśāstraSmṛtiEtika, kewajiban dan tata kehidupan
ṢaḍdarśanaFilsafat WedaEnam sistem filsafat Hindu
Āgama dan TantraPustaka sektarianTeologi, yoga, mantra, pura dan tata pemujaan
Tattwa dan lontar BaliSastra tradisiPenjabaran ajaran Hindu dalam konteks Bali

Kesimpulan

Weda bukan satu buku tunggal, melainkan suatu tradisi pengetahuan suci yang sangat luas. Inti Weda yang disebut Śruti terdiri atas empat Weda:

  1. Ṛgveda;
  2. Yajurveda;
  3. Sāmaveda;
  4. Atharvaveda.

Masing-masing secara konseptual memiliki empat lapisan:

  1. Saṁhitā;
  2. Brāhmaṇa;
  3. Āraṇyaka;
  4. Upaniṣad.

Untuk mempelajarinya dikenal enam Vedāṅga, sedangkan pengetahuan terapannya dikenal sebagai Upaveda. Ajaran Weda selanjutnya dijelaskan dan dikembangkan melalui Itihāsa, Purāṇa, Dharmaśāstra, Darśana, Āgama, Tantra dan berbagai sastra keagamaan daerah.

Dengan demikian, Rāmāyaṇa, Mahābhārata, Bhagavadgītā, Purāṇa dan lontar-lontar Bali merupakan pustaka suci dan penting dalam tradisi Hindu, tetapi bukan bagian langsung dari Catur Weda Saṁhitā. Perbedaan tersebut merupakan perbedaan klasifikasi, bukan penolakan terhadap kesucian atau manfaat rohaninya.


Posted

in

by

Tags: