
Menurut Agama-Agama dan Ilmu Pengetahuan Modern.
Jawaban berbagai agama mengenai asal alam semesta tidak semuanya sama. Ada yang mengajarkan penciptaan oleh Tuhan, ada yang menjelaskan perwujudan dari realitas tertinggi, dan ada yang menggambarkan siklus dunia tanpa menetapkan pencipta pertama. Sementara itu, ilmu pengetahuan menyelidiki perkembangan alam melalui pengamatan dan model yang dapat diuji. Quran.com
Untuk membandingkannya, perlu dibedakan dua pertanyaan:
“Mengapa ada sesuatu, bukan ketiadaan?” adalah pertanyaan mengenai dasar keberadaan. “Bagaimana alam semesta yang kita amati berkembang?” adalah pertanyaan mengenai sejarah fisiknya. Jawaban untuk pertanyaan kedua belum tentu sekaligus menyelesaikan pertanyaan pertama.
Dalam kosmologi modern, alam semesta memiliki sejarah sekitar 13,8 miliar tahun, dihitung dalam kerangka model kosmologi standar. Namun, Big Bang tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh keberadaan muncul dari ketiadaan mutlak, ataupun memastikan bahwa tidak ada keadaan yang mendahuluinya. NASA Science
1. Weda dan agama Hindu: beberapa penjelasan, bukan satu kisah tunggal
Weda dibahas di sini sebagai sumber dalam tradisi Hindu, kemudian dibandingkan dengan penjelasan Upaniṣad, Bhagavad Gītā, dan Purāṇa.
A. Ṛgveda: permulaan sebagai misteri, benih kosmis, dan kesatuan
Nāsadīya Sūkta — Ṛgveda 10.129 menggambarkan keadaan awal yang belum dapat dijelaskan dengan kategori biasa: belum ada pembedaan keberadaan dan ketidakberadaan, siang dan malam, ataupun kematian dan keabadian sebagaimana dikenal manusia. Disebut pula tad ekam, “Yang Satu”, tanpa secara eksplisit menamainya Brahmā, Viṣṇu, atau Śiva. Bagian akhirnya mempertanyakan siapa yang benar-benar mengetahui asal penciptaan, bahkan membuka kemungkinan bahwa asal tersebut tidak diketahui. Internet Sacred Text Archive
Himne ini penting karena tidak hanya menawarkan jawaban, tetapi juga mengakui kedalaman misteri dan keterbatasan pengetahuan tentang permulaan.
Hiraṇyagarbha Sūkta — Ṛgveda 10.121 menggunakan gambaran “embrio emas” atau “kandungan emas” sebagai sumber awal yang menopang langit dan bumi. Puruṣa Sūkta — Ṛgveda 10.90 menjelaskan kemunculan tatanan dunia melalui pengorbanan Puruṣa kosmis: berbagai bagian alam dihubungkan dengan bagian-bagian keberadaannya. Keduanya menyampaikan gambaran asal yang berbeda dari pertanyaan terbuka Nāsadīya. Internet Sacred Text Archive
Ketiga himne tersebut lebih tepat dibaca sebagai beberapa cara memahami asal kosmis, bukan dipaksakan menjadi urutan kejadian dari satu cerita yang sama.
B. Upaniṣad: keberagaman berasal dari dasar keberadaan
Chāndogya Upaniṣad 6.2.1–3 mengajarkan bahwa pada awalnya terdapat Sat, Yang Ada, yang satu tanpa yang kedua. Teks ini mempertanyakan bagaimana keberadaan dapat muncul dari ketidakberadaan, lalu menggambarkan Yang Ada sebagai sumber munculnya yang banyak. Internet Sacred Text Archive
Dalam kerangka ini, pertanyaannya bukan terutama siapa yang merakit benda-benda alam, tetapi apakah dasar yang membuat semua benda dapat ada.
Karena itu, kemunculan alam dalam bagian tersebut berbeda dari gambaran seorang pengrajin yang mengambil bahan dari luar dirinya. Keberagaman tidak berdiri sepenuhnya terpisah dari sumbernya. Ini merupakan penjelasan filosofis mengenai hubungan dasar keberadaan dan dunia, bukan uraian pembentukan atom atau galaksi. Internet Sacred Text Archive
C. Tradisi Hindu kemudian: Kṛṣṇa, Śiva, atau Devī sebagai sumber tertinggi
Dalam Bhagavad Gītā 9.7, Kṛṣṇa menjelaskan bahwa pada akhir suatu masa kosmis, makhluk-makhluk kembali ke dalam prakṛti-Nya, kemudian diwujudkan lagi pada masa berikutnya. Śiva Purāṇa, dalam uraian Śivatattva, menempatkan Śiva sebagai sumber penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan. Sementara Devī Bhāgavata Purāṇa 7.32 menempatkan Devī sebagai realitas yang ada sebelum penciptaan, beserta daya-Nya yang memungkinkan perwujudan alam. Vedabase
Jadi, pernyataan populer bahwa “Brahmā menciptakan, Viṣṇu memelihara, dan Śiva menghancurkan” tidak mencakup seluruh kedalaman dan keragaman teologi Hindu. Dalam sumber Śaiva tersebut, misalnya, Śiva tidak sekadar menjalankan fungsi peleburan. Wisdom Library
D. Waktu kosmis bersiklus
Banyak penjelasan Hindu mengenal rangkaian penciptaan atau perwujudan → pemeliharaan → peleburan → perwujudan kembali. Dalam hitungan tradisional yang berkaitan dengan Bhagavad Gītā 8.17, satu siang Brahmā berlangsung 4,32 miliar tahun, dan malamnya sepanjang itu pula. Angka tersebut menunjuk pada satu satuan siklus tradisional, bukan otomatis usia seluruh alam semesta menurut astronomi. Vedabase
Dengan demikian, “permulaan alam yang sekarang” tidak harus sama dengan “permulaan mutlak seluruh keberadaan”.
2. Islam: alam diciptakan oleh Allah melalui kehendak-Nya
A. Allah adalah sumber penciptaan
Dalam Islam, dasar penjelasannya adalah Allah sebagai Pencipta langit dan bumi. Al-Qur’an 2:117 menegaskan penciptaan melalui kehendak dan perintah Allah, yang dikenal dengan ungkapan kun fa-yakūn: apabila Allah menetapkan sesuatu, terjadilah sesuatu itu. Quran.com
Penekanannya adalah bahwa keberadaan alam bergantung pada Allah. Ayat tersebut tidak menyajikan persamaan fisika atau menjelaskan mekanisme pembentukan partikel, melainkan menegaskan kuasa penciptaan.
B. Penciptaan dalam enam ayyām
Al-Qur’an 7:54 menyebut penciptaan langit dan bumi dalam enam ayyām. Istilah ini biasanya diterjemahkan sebagai “hari”, tetapi terdapat pula terjemahan yang menggunakan “periode-periode waktu”. Karena itu, penjelasan mengenai panjangnya tidak seragam dalam seluruh pembacaan Muslim. Quranic Arabic Corpus
Dua hal perlu dipisahkan: keyakinan bahwa Allah menciptakan alam dan penafsiran mengenai durasi tahapan penciptaannya. Menganggap seluruh Muslim wajib memahami enam hari itu sebagai enam kali 24 jam akan mengabaikan keragaman terjemahan dan penafsiran.
C. Langit dan bumi yang menyatu, serta langit berupa “asap”
Al-Qur’an 21:30 menyebut langit dan bumi yang sebelumnya menyatu atau terpadu, kemudian dipisahkan. 41:11 menggambarkan langit dalam keadaan dukhān, lazim diterjemahkan sebagai “asap”. Kedua ayat ini sering menjadi pusat pembahasan mengenai penciptaan kosmos. Quran.com
Namun, menyamakan ungkapan itu secara pasti dengan Big Bang atau plasma primordial merupakan langkah penafsiran tambahan. Tafsir atas 21:30 juga mencatat penjelasan tentang langit yang sebelumnya tidak menurunkan hujan dan bumi yang sebelumnya tidak menumbuhkan tanaman. Artinya, terdapat riwayat penafsiran selain pembacaan kosmologi modern. Quran.com
Demikian pula, 51:47 diterjemahkan dengan beberapa nuansa, termasuk meluaskan langit atau menjadikan keluasannya. Perbedaan tersebut perlu diperhatikan sebelum ayat itu diperlakukan sebagai pernyataan teknis tentang pengembangan ruang dalam relativitas. Quranic Arabic Corpus
Pokok ajarannya adalah ketergantungan alam pada Allah. Hubungan ayat-ayat penciptaan dengan teori ilmiah merupakan ranah tafsir yang perlu dibedakan dari isi ayat dan dari bukti observasional.
3. Kristen: penciptaan oleh Allah, dengan beragam pembacaan atas Kitab Kejadian
A. Kisah penciptaan dalam Kejadian
Kejadian 1 menggambarkan Allah menata dunia melalui firman: terang, pemisahan wilayah alam, tumbuh-tumbuhan, benda-benda penerang di langit, hewan, dan manusia. Penciptaan berulang kali dinyatakan baik. Rangkaian ini disampaikan dalam susunan enam hari, dengan perhentian pada hari ketujuh dalam kelanjutan kisahnya. USCCB Bible
Dalam Yohanes 1:1–3, segala sesuatu dijelaskan menjadi ada melalui Firman. Dengan demikian, pembacaan Kristen menghubungkan penciptaan bukan hanya dengan kisah Kejadian, tetapi juga dengan pemahaman mengenai Firman ilahi. USCCB Bible
B. Creatio ex nihilo: tidak membutuhkan bahan yang sudah ada
Doktrin penting dalam teologi Kristen adalah penciptaan dari ketiadaan, atau creatio ex nihilo. Maksudnya bukan bahwa “ketiadaan” merupakan suatu bahan, melainkan bahwa Allah tidak memerlukan bahan yang telah tersedia atau bantuan pihak lain untuk menciptakan.
Katekismus Gereja Katolik §296, misalnya, secara tegas mengajarkan hal ini dan membedakannya dari pemancaran alam yang berlangsung sebagai keharusan dari hakikat ilahi. Vatican
Ini merupakan perbedaan filosofis penting terhadap sejumlah ajaran yang melihat dunia sebagai perwujudan atau perkembangan suatu realitas dasar.
C. Apakah semua orang Kristen membaca enam hari secara harfiah?
Tidak. Ada kelompok kreasionis bumi muda yang memahami enam hari sebagai hari biasa dan menempatkan penciptaan beberapa ribu tahun lalu. Sebaliknya, Katekismus Katolik §337 menyebut susunan enam hari sebagai penyajian simbolis karya penciptaan. Kedua pendekatan tersebut tidak boleh diperlakukan sebagai satu pandangan yang sama. Answers in Genesis
Dalam pidato tahun 2014, Paus Fransiskus juga menyatakan bahwa Big Bang tidak dengan sendirinya meniadakan keberadaan Pencipta. Ini menunjukkan salah satu bentuk pembacaan Kristen yang menerima pembahasan kosmologi ilmiah sambil mempertahankan keyakinan teologis tentang penciptaan. Vatican
Jadi, percaya bahwa Allah menciptakan alam tidak otomatis menentukan satu pendapat Kristen tentang umur alam atau mekanisme perkembangannya.
4. Agama Buddha: dunia berkondisi, siklus kosmis, dan awal yang tidak dapat ditentukan
A. Tidak berpusat pada kisah Tuhan pencipta pertama
Dalam sumber-sumber Pāli yang dibahas di sini, penjelasan dunia tidak berpusat pada satu Tuhan pencipta yang menghasilkan seluruh alam pada satu permulaan mutlak. Aggañña Sutta — Dīgha Nikāya 27 menggambarkan dunia yang mengalami penyusutan dan pengembangan kembali dalam rentang sangat panjang. SuttaCentral
Kisahnya tidak hanya membahas lingkungan kosmis, tetapi juga perkembangan kehidupan manusia dan tatanan sosial. Karena itu, membacanya semata-mata sebagai buku astronomi akan kehilangan tujuan pengajarannya.
B. Awal saṃsāra tidak dapat ditemukan
Saṃyutta Nikāya 15.1 menyatakan bahwa awal perjalanan kelahiran kembali tidak dapat ditemukan atau ditentukan. Makhluk terus mengembara karena ketidaktahuan dan keterikatan. Sutta Friends
Pembedaan pentingnya adalah bahwa pernyataan tersebut membahas saṃsāra, perjalanan keberadaan dan kelahiran kembali. Itu bukan hasil pengukuran mengenai berapa lama ruang-waktu fisik telah ada.
Dengan demikian, ungkapan “tidak ditemukan awalnya” tidak sebaiknya langsung diubah menjadi klaim ilmiah bahwa struktur alam semesta modern telah terbukti kekal ke masa lampau.
C. Tujuan utamanya adalah pembebasan dari penderitaan
Dalam Cūḷamāluṅkya Sutta — Majjhima Nikāya 63, persoalan apakah dunia kekal atau tidak kekal dibahas bersama sejumlah pertanyaan spekulatif lain. Melalui perumpamaan orang yang terkena anak panah, teks menekankan bahwa penanganan penderitaan tidak harus ditunda sampai semua pertanyaan mengenai dunia terjawab. Dhamma Talks
Sikap ini bukan berarti tidak boleh menyelidiki alam. Pokoknya adalah pengetahuan mengenai asal kosmos tidak dijadikan syarat sebelum seseorang mulai mengatasi penderitaan.
Kesamaan gambaran siklus dengan sebagian kosmologi Hindu juga tidak membuat kedua ajaran identik, apalagi otomatis membuktikan suatu model kosmologi siklik dalam fisika.
5. Beberapa agama dan tradisi lainnya
A. Yahudi: penciptaan, kebaikan dunia, dan Sabat
Tradisi Yahudi memiliki dasar kisah penciptaan dalam Bereshit/Kejadian 1–2, yang juga menjadi bagian kitab suci Kristen. Allah menata langit dan bumi, menciptakan kehidupan, serta menyatakan ciptaan-Nya baik. Hari ketujuh diberkati dan dikuduskan. Chabad
Karena itu, kisahnya menghubungkan asal dunia dengan keteraturan, kebaikan ciptaan, dan kekudusan waktu, bukan sekadar pertanyaan mengenai bahan awal alam.
Adanya kitab yang sama tidak berarti seluruh penafsiran Yahudi dan Kristen identik. Yang dibandingkan di sini adalah dasar narasi penciptaannya, bukan menyamakan keseluruhan teologi keduanya.
B. Sikh: alam berasal dari Yang Ilahi dan berlangsung dalam hukam
Dalam ajaran Sikh, alam merupakan ciptaan dan perwujudan yang berkaitan dengan Yang Ilahi. Keberlangsungannya berada dalam hukam, yang mencakup pengertian kehendak, perintah, atau tatanan ilahi. Asal dan akhir alam dipahami dalam hubungan dengan Tuhan. Yale Forum on Religion and Ecology
Guru Granth Sahib, Ang 1035, menggambarkan keadaan ketika belum ada bumi, langit, siang, malam, bulan, atau matahari, sementara hukam ilahi tetap disebut. Sri Granth
Penekanannya adalah kedalaman dan ketakterjangkauan sepenuhnya dari karya ilahi. Gambaran tersebut tidak dengan sendirinya menetapkan suatu tanggal penciptaan atau mekanisme fisika tertentu.
C. Jain: alam semesta tidak diciptakan
Jainisme memiliki posisi yang berbeda secara mendasar dari agama-agama penciptaan: alam semesta tidak diciptakan oleh Tuhan dan tidak memiliki permulaan maupun akhir dalam waktu. Entitas-entitas dasarnya dipandang kekal, meskipun keberadaannya tidak berarti segala bentuk dan keadaan harus tetap sama. Jaina
Karena itu, pertanyaan “siapa yang membuat alam?” tidak dijawab dengan menunjuk satu pencipta pertama. Premis bahwa alam harus pernah dibuat justru tidak diterima.
Pandangan religius-filosofis tersebut tetap perlu dibedakan dari model fisika. Sama-sama tidak menggunakan Tuhan sebagai variabel penjelasan bukan berarti kosmologi Jain dan kosmologi modern merupakan teori yang sama.
D. Daoisme/Taoisme: keberagaman muncul melalui Dao
Dao De Jing Bab 25 menggambarkan sesuatu yang mendahului langit dan bumi, tidak berbentuk, dan dinamai Dao. Bab 42 menguraikan kemunculan keberagaman melalui rangkaian Dao, Yang Satu, Yang Dua, Yang Tiga, kemudian segala sesuatu. Internet Sacred Text Archive
Dalam konteks teks ini, Dao tidak diperlakukan seperti pengrajin manusia yang berdiri di luar alam dan menyusun benda satu per satu. Bahasanya menekankan sumber dan proses munculnya keberagaman serta keselarasan berbagai unsur.
Rangkaian tersebut adalah bahasa filosofis. Menyamakan “Yang Dua” dengan dua partikel tertentu, misalnya, akan memerlukan penafsiran tambahan yang tidak diberikan teks.
E. Konghucu/Konfusianisme: Tian, perubahan, dan keteraturan
Zhongyong menghubungkan kodrat manusia dengan apa yang dianugerahkan oleh Tian, Langit. Dengan demikian, tatanan manusia tidak dipisahkan sepenuhnya dari tatanan yang lebih luas. Chinese Text Project
Dalam Yijing, khususnya bagian Xici, dibahas Taiji atau Yang Agung, dua bentuk dasar, empat lambang, dan delapan trigram. Tradisi penafsirannya mengembangkan pemahaman mengenai perubahan dan hubungan berbagai unsur kosmis. Chinese Text Project
Pendekatan ini berbeda dari narasi enam hari penciptaan: perhatian utamanya terletak pada bagaimana keberagaman dan perubahan memiliki tatanan, serta hubungannya dengan kehidupan manusia.
F. Zoroastrianisme: ciptaan yang baik dan perjuangan melawan kerusakan
Dalam tradisi Zoroastrian, Ahura Mazda dipahami sebagai pencipta dan penopang tatanan yang baik. Kejahatan dan kerusakan dihubungkan dengan Angra Mainyu. Penjelasan penciptaannya karena itu berkaitan erat dengan persoalan moral: mengapa ada kebaikan sekaligus penderitaan dan kerusakan. Tradisi ini juga mengarahkan pandangan pada penyingkiran kejahatan pada akhirnya. Encyclopaedia Iranica
Namun, uraian mengenai hubungan kedua prinsip tersebut berkembang dalam sejarah. Tidak tepat mereduksi seluruh Zoroastrianisme menjadi satu rumus sederhana tentang “dua Tuhan yang selalu sama kuat”.
G. Shinto: kemunculan kami dan pembentukan dunia
Dalam bagian awal Kojiki, langit dan bumi serta para kami muncul dalam rangkaian kosmis. Kemudian Izanagi dan Izanami menerima tugas memberi bentuk pada daratan; kisah Onogoro menggambarkan pulau yang terbentuk dari tetesan setelah mereka mengaduk perairan. Internet Sacred Text Archive
Cakupan narasi ini penting diperhatikan: bagian-bagiannya berhubungan erat dengan asal tanah Jepang dan dunia para kami, bukan seluruhnya merupakan penjelasan tentang asal semua galaksi atau penciptaan dari ketiadaan mutlak.
6. Ilmu pengetahuan modern: apa yang diketahui tentang asal dan perkembangan kosmos?
A. Model utama: alam yang dahulu sangat panas dan padat
Kerangka utama kosmologi modern adalah model Big Bang panas, yang menjadi bagian dari model kosmologi standar ΛCDM. Model ini menghubungkan sejarah pengembangan alam dengan materi biasa, materi gelap, dan energi gelap. Pengujian melalui pengamatan radiasi awal alam, termasuk hasil Atacama Cosmology Telescope yang diumumkan pada 2025, memberikan dukungan kuat terhadap banyak prediksinya. Princeton University
Big Bang bukan ledakan bom dari satu titik di ruang kosong. Yang dijelaskan adalah pengembangan alam itu sendiri; bukan materi yang meledak dari suatu pusat khusus menuju ruang kosong di luarnya. Karena itu, Bumi bukan pusat ledakannya. NASA Science
B. Garis besar sejarah awal alam
Berikut urutan sederhananya. Waktu dihitung sejak fase awal Big Bang panas, bukan sebagai pengukuran langsung mengenai “awal mutlak segala keberadaan”.
| Tahap | Gambaran fisik |
|---|---|
| Pecahan detik awal | Alam sangat panas dan padat; partikel-partikel serta interaksinya menjadi bagian utama perkembangan awal. |
| Beberapa menit | Proses nuklir membentuk inti-inti unsur ringan. |
| Sekitar 380.000 tahun | Alam cukup dingin sehingga atom netral terbentuk secara luas dan cahaya dapat menempuh jarak jauh dengan lebih bebas. |
| Ratusan juta tahun pertama | Bintang-bintang dan galaksi-galaksi awal berkembang dari ketidakseragaman distribusi materi. |
| Miliaran tahun berikutnya | Struktur kosmis terus berkembang melalui gravitasi dan proses fisik lainnya. |
Urutan tersebut menghubungkan fisika partikel, fisika nuklir, radiasi, dan gravitasi. Unsur-unsur berat yang diperlukan bagi planet berbatu dan kehidupan muncul jauh setelah fase pembentukan unsur ringan awal, melalui proses di bintang dan peristiwa terkait. CERN
C. Mengapa model Big Bang dipercaya?
Pertama, pengembangan alam. Hubungan jarak galaksi dan pergeseran spektrumnya memberikan dasar observasional bahwa alam berkembang. Penjelasannya tidak bertumpu pada kesamaan bahasa dengan sebuah kitab, tetapi pada pengukuran cahaya dan pengujian model. CERN
Kedua, radiasi latar gelombang mikro kosmis atau CMB. Ini adalah radiasi peninggalan fase awal ketika alam menjadi transparan. Suhu serta pola ketidakseragamannya dapat diukur, lalu dibandingkan dengan prediksi mengenai alam muda. CMB bukan foto “sebelum alam ada”, melainkan jejak dari suatu tahap perkembangan awalnya. European Space Agency
Ketiga, kelimpahan unsur ringan. Perhitungan nukleosintesis Big Bang dapat dibandingkan dengan pengamatan helium, deuterium, dan unsur ringan lainnya. Ini merupakan pengujian penting yang menghubungkan keadaan awal alam dengan fisika nuklir. Kecocokan pada banyak hasil tidak berarti semua rincian telah selesai; kajian teknis juga membahas ketegangan dan ketidakpastian tertentu. arXiv
Kekuatan modelnya terletak pada beberapa jenis bukti yang dapat diperiksa bersama, bukan pada satu pengamatan saja.
D. Apa yang masih belum diketahui?
Mekanisme paling awal belum dipastikan. Inflasi kosmis—fase pengembangan sangat cepat—merupakan gagasan penting untuk menjelaskan beberapa ciri alam yang diamati. Tetapi apa yang menggerakkannya dan apa, bila ada, yang mendahuluinya masih menjadi pertanyaan penelitian. NASA Science
Demikian pula, keberhasilan menjelaskan alam muda tidak otomatis menjawab mengapa hukum fisika ada, apakah waktu memiliki awal mutlak, atau mengapa terdapat keberadaan sama sekali. Kita perlu membedakan bagian sejarah alam yang berhasil direkonstruksi dari klaim bahwa seluruh persoalan asal sudah selesai.
E. Perkembangan penting hingga 2026
Pengamatan James Webb Space Telescope terus menguji pembentukan galaksi awal. NASA pada Januari 2026 melaporkan konfirmasi MoM-z14, yang terlihat sebagaimana keadaannya sekitar 280 juta tahun setelah Big Bang. Galaksi-galaksi awal yang sangat terang menantang sejumlah perkiraan mengenai pembentukan galaksi; hal itu tidak dengan sendirinya berarti seluruh model Big Bang telah dibatalkan. NASA Science
Sifat energi gelap juga terus diuji. Sejumlah hasil DESI sebelumnya memunculkan petunjuk bahwa energi gelap mungkin berubah, tetapi analisis 30 Juli 2026 atas jejak gas hidrogen memberikan hasil yang lebih dekat dengan model standar. Kolaborasi tersebut menekankan bahwa hasil baru ini dapat melemahkan petunjuk sebelumnya atau menuntut penjelasan yang lebih kompleks. Belum tepat menyebut perubahan energi gelap sebagai fakta yang sudah dipastikan. DESI
Contoh-contoh ini memperlihatkan bahwa sains dapat mempertahankan suatu kerangka yang kuat sambil terus menguji dan merevisi rinciannya.
7. Perbandingan pokok
Tabel ini merangkum pendekatan yang dibahas, bukan menyatakan bahwa semua penganut dalam setiap tradisi memiliki penafsiran identik.
| Tradisi | Penjelasan pokok tentang asal |
|---|---|
| Weda dan Hindu | Beragam: misteri permulaan, sumber kosmis, kemunculan yang banyak dari Yang Satu, serta siklus perwujudan dan peleburan. |
| Islam | Alam bergantung pada penciptaan dan kehendak Allah; rincian ayat penciptaan memiliki sejarah penafsiran. |
| Kristen | Allah menciptakan alam; terdapat perbedaan pembacaan atas durasi dan bentuk narasi Kejadian. |
| Buddha | Dunia berkondisi dan mengalami siklus; awal saṃsāra tidak dapat ditentukan, dengan pembebasan dari penderitaan sebagai perhatian utama. |
| Yahudi | Allah menciptakan dan menata dunia yang baik; penciptaan berkaitan dengan kekudusan Sabat. |
| Sikh | Alam berasal dari Yang Ilahi dan berlangsung dalam hukam. |
| Jain | Alam tidak diciptakan dan tidak memiliki permulaan atau akhir dalam waktu. |
| Daoisme | Keberagaman muncul melalui Dao dan hubungan berbagai unsur. |
| Konghucu | Kosmos dipahami melalui Tian, perubahan, dan keteraturan alam serta manusia. |
| Zoroastrianisme | Ciptaan yang baik berkaitan dengan perjuangan melawan kejahatan dan kerusakan. |
| Shinto | Kemunculan dunia dan kami dijelaskan melalui kisah-kisah sakral, termasuk pembentukan tanah Jepang. |
| Sains modern | Sejarah fisik alam direkonstruksi melalui model yang diuji dengan pengamatan; asal mutlak belum dipastikan. |
Kemiripan tidak selalu berarti kesamaan
Kata-kata seperti cahaya, kegelapan, air awal, Yang Satu, atau siklus dapat menjadi bahan perbandingan. Namun, kesamaan gambaran tidak membuktikan bahwa dua teks menyampaikan teori yang sama, atau bahwa sebuah kitab telah memuat keseluruhan kosmologi modern.
Sebagai contoh, penciptaan tanpa bahan yang sudah ada, perwujudan dari dasar keberadaan, dan alam yang tidak pernah diciptakan merupakan jawaban filosofis yang sungguh berbeda. Menyebut semuanya “sebenarnya sama” justru menghilangkan perbedaannya. Vatican
Agama dan sains dapat bersinggungan, tetapi tidak selalu menanyakan hal yang sama
Keyakinan bahwa alam memiliki dasar atau tujuan ilahi tidak otomatis menjadi persamaan fisika yang dapat diuji. Sebaliknya, bila suatu tafsir menetapkan umur alam hanya beberapa ribu tahun atau urutan kejadian fisik tertentu, klaim tersebut memang dapat dibandingkan dengan bukti astronomi. Menghormati suatu keyakinan tidak mengharuskan kita menganggap semua klaim fisiknya memiliki dukungan ilmiah yang sama. Understanding Evolution
Kesimpulan
Menurut agama-agama, asal semesta dijelaskan melalui beberapa kerangka yang berbeda: penciptaan, perwujudan, proses kosmis, atau keberadaan yang tidak berawal. Bahkan di dalam satu agama, sumber dan penafsirannya dapat beragam.
Menurut ilmu pengetahuan modern, model Big Bang panas merupakan kerangka yang sangat kuat untuk menjelaskan sejarah awal dan perkembangan alam yang diamati. Akan tetapi, keberhasilan tersebut belum sama dengan jawaban final mengenai asal mutlak seluruh keberadaan. Princeton University
Karena itu, posisi yang paling cermat bukanlah “semua agama sudah mengatakan Big Bang”, ataupun “Big Bang telah menyelesaikan seluruh pertanyaan tentang Tuhan”. Yang lebih tepat adalah:
Kita memiliki pengetahuan ilmiah yang kuat tentang banyak tahap perkembangan kosmos, sambil tetap menghadapi pertanyaan filosofis dan religius yang mendalam tentang mengapa kosmos ada sama sekali.
