bedanya ada pada peran dan orientasinya.
Undagi Bade adalah ahli atau arsitek tradisional pembuat bade. Perannya bukan sekadar membuat rangka, tetapi memahami pakem, ukuran, simbol, konstruksi, seni, dan aspek ritual. Dalam sumber tentang upacara Ngaben/Pelebon, pembuatan bade disebut perlu pengetahuan agama, filsafat, dan kesenian; pembuatannya dipimpin oleh tukang yang sudah bergelar undagi, bahkan dikaitkan dengan pelatihan dan pewintenan. Undagi sebagai “arsitek bade” yang merancang bade dari bentuk sederhana sampai bertumpang menjulang.
Dagang Bade lebih dekat ke istilah sehari-hari untuk pedagang/pengusaha/penyedia jasa bade: pihak yang menjual atau menerima pesanan bade sebagai komoditas. Dalam kajian “Arsitektur Wadah, dari Tradisi ke Industri,” wadah/bade di era industri dijelaskan melalui proses pemesanan, produksi, distribusi, dan konsumsi; harganya berbeda sesuai jenis dan kelengkapan yang dipesan. Kata “dagang” sendiri berarti kegiatan jual-beli untuk memperoleh keuntungan.
| Aspek | Undagi Bade | Dagang/Pengusaha Bade |
|---|---|---|
| Inti peran | Ahli/arsitek tradisional | Penjual/penyedia/pengusaha |
| Dasar kerja | Pakem, sikut, simbol, ritual, pengalaman | Pesanan, harga, produksi, distribusi |
| Orientasi | Ketepatan adat, makna, keselamatan karya | Ketersediaan, efisiensi, layanan konsumen |
| Hubungan dengan uang | Bisa menerima upah, tetapi identitasnya keahlian | Identitas utamanya transaksi/jual-beli |
| Risiko | Salah pakem, salah ukuran, salah prosesi | Terlalu komersial, standar massal, kehilangan makna |
Jadi, undagi bade belum tentu “dagang bade,” dan dagang bade belum tentu undagi. Yang ideal: pengusaha atau pedagang bade tetap melibatkan undagi yang paham pakem, supaya bade tidak hanya “payu kejual,” tetapi juga patut secara adat, makna, dan fungsi upacara. Dalam kajian komodifikasi, perubahan dari tradisi ke industri bahkan diringkas sebagai pergeseran dari ngayah menjadi mayah—dari persembahan/pengabdian menuju layanan sesuai pembayaran.
